Posted in Articles
Berbahagia di Tengah Pencobaan dan Ujian

Berbahagia di Tengah Pencobaan dan Ujian

Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.

1 Yohanes 5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.

Filipi 1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.

Surat Yakobus diawali dengan perkataan, “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan: Bersukacitalah! (Tl.). Yakobus adalah sauda­ra kandung Tuhan Yesus (Mat. 13:55) dan Yudas (Yud. 1). Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan ketika Tuhan berada di bumi, tetapi ia menjadi se­orang rasul setelah kebangkitan Tuhan (Gal. 1:19) dan men­jadi penatua terkemuka dalam gereja di Yerusalem (Kis. 12:17; 15:2, 13; 21:18). Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus dianggap sebagai sokoguru gereja. Paulus menyebutnya yang pertama di antara ketiga sokoguru itu (Gal. 2:9).

Dalam 1:2 Yakobus mengatakan, “Saudara‑saudaraku, anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke da­lam berbagai‑bagai pencobaan.” Di sini kita nampak bahwa kebajikan pertama yang berkaitan dengan praktek kristiani yang sempurna yang dibahas oleh Yakobus adalah menang­gung pencobaan‑pencobaan dengan iman. Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, Iblis (1 Yoh. 5:19). Iblis menentang Allah terus‑menerus, dan da­lam setiap kesempatan. Iblis tidak senang bila orang‑orang berpaling kepada Allah dan ia tidak akan membiarkan hal ini. Begitu seseorang berpaling kepada Allah, Iblis akan menghasut orang‑orang di sekelilingnya untuk menganiaya orang itu. Paulus pernah mengatakan bahwa kita, orang-­orang Kristen, ditetapkan untuk menderita penganiayaan (Flp. 1:29). Karena itu, penganiayaan merupakan bagian yang ditentukan bagi kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus. Jadi, aspek pertama dari praktek kristiani yang sempurna adalah menanggung pencobaan‑pencobaan, se­buah istilah yang mencakup penganiayaan.

Penganiayaan adalah suatu penderitaan. Akan tetapi, pencobaan‑pencobaan bukan hanya suatu penderitaan, kare­na pencobaan‑pencobaan adalah suatu penderitaan yang me­ngandung maksud untuk mencobai atau menguji kita. Seba­gai gambaran, kita bisa memakai ujian akhir di sekolah. Murid‑murid tahu bahwa ujian akhir bisa menjadi suatu penderitaan dan pencobaan yang riil. Akan tetapi, sebenar­nya pencobaan semacam itu merupakan suatu pertolongan bagi para murid. Jika di sekolah tidak ada ujian akhir, para murid mungkin akan melalaikan pelajaran mereka. Namun, ketika mereka tahu bahwa ujian akhir telah di ambang pintu, mereka akan berkonsentrasi kepada pelajaran mere­ka dengan rajin. Karena itu, ujian akhir membantu para murid mempelajari hal‑hal yang penting. Karena alasan ini­lah para orang tua murid akan sangat berterima kasih de­ngan adanya ujian akhir, karena mengetahui hal itu mem­bantu anak‑anak mereka untuk memperoleh manfaat dari pendidikan mereka.

Dalam “sekolah pendidikan rohani” juga ada “ujian akhir” dan macam‑macam “ujian” lainnya. “Kepala” sekolah ini adalah Bapa surgawi kita. Ia mengatur berbagai pencobaan, berbagai ujian bagi kita. Semua pencobaan itu baik bagi kita. Sebagaimana ujian‑ujian berfaedah bagi para murid, demikian juga berbagai pencobaan yang kita hadapi sebagai orang‑orang Kristen bermanfaat bagi kita.

Mungkin setelah Anda percaya kepada Tuhan Yesus, Anda mengira bahwa di dalam hidup kita sebagai orang Kristen tidak akan ada penderitaan ataupun pencobaan. Bo­leh jadi Anda berkata kepada diri Anda sendiri, “Aku takut akan Allah, aku juga mengasihi Tuhan Yesus, aku adalah anak Allah. Tentu Allah mengasihiku, dan Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang jahat menimpa diriku.” Itulah konsepsi kebanyakan orang beriman. Namun akhirnya pen­cobaan‑pencobaan pun datanglah. Salah satu pencobaan ada­lah tentangan dari keluarga dan kawan‑kawan. Pencobaan semacam ini lebih dari sekadar penganiayaan. Penganiaya­an menggenapkan maksud tujuan dari si penganiaya, tetapi pencobaan dipakai oleh Allah untuk menggenapkan tujuan­Nya. Seseorang boleh jadi menganiaya Anda, tetapi Allah memakai penganiayaan itu sebagai suatu pencobaan untuk mencobai Anda, untuk menguji Anda.

Ujian akhir memiliki tiga tujuan: mencoba, menguji, dan membuktikan seorang murid. Demikian juga, berbagai pencobaan yang harus kita tempuh sebagai kaum beriman mengandung tujuan mencoba, menguji, dan membuktikan kita. Pencobaan itu benar‑benar merupakan suatu bantuan di dalam praktek kristiani yang sempurna, karena Allah menggunakannya untuk menyempurnakan kita.

Ada seorang saudara yang pandai mengarang nyanyian. Pada suatu hari, ia pergi ke tempat pembuatan keramik, melihat bagaimana orang membakar keramik. Dia melihat, setelah orang membuat pot-pot bunga, pot-pot itu digambari bunga-bunga, tulisan-tulisan, kemudian ditaruh dalam tungku untuk dibakar. Dia berpikir, tentunya pot-pot bunga itu akan sangat menderita ketika dibakar. Mungkinkah pot-pot itu diselesaikan tanpa melalui pembakaran? Tetapi pot-pot bunga yang tidak melalui pembakaran, warna-warnanya mudah luntur, tidak dapat diandalkan. Jadi, harus melalui pembakaran, tak dapat tidak dibakar. Pot-pot bunga yang ditaruh dalam tungku pembakaran dan dibakar, sebagian berhasil menjadi pot bunga yang indah, sebagian lagi karena tidak tahan pembakaran lalu menjadi pot-pot yang pecah/rusak.

Melihat proses tersebut, saudara ini sangat tergerak. Setelah pulang, ia memakai api pengujian yang dikatakan oleh rasul Petrus menulis sebuah syair, mengarang sebuah lagu. Dalam nyanyian itu ia menggambarkan dirinya seperti pot bunga. Garis besar lagu itu demikian: “Atas diriku, Tuhan telah menggambar bunga, menulis huruf-huruf, memberi warna-warni, sungguh indah. Tetapi masih belum tahan jamahan dan cucian air. Kalau aku tidak melewati api, semuanya ini tidak akan tahan lama. Oh, lebih baik aku masuk tungku pembakaran. Di dalam tungku itu, ada tangisan, ada keluhan. Tetapi karena aku mau mendapatkan kecantikan yang kekal, tidak ada jalan lain, aku harus menerimanya. Setelah genap waktunya, aku keluar. Selain ada keindahanku yang di luar, di dalamku juga kukuh. Semua gambar dan huruf kuat berbaur menjadi satu denganku, adalah milikku, tidak dapat dihapus. Sekarang, baik ditempatkan di hadapan raja maupun ditempatkan di hadapan siapa saja, tetap indah.”

Pengalaman rohani yang kita dapatkan persis seperti pot bunga itu, baru saja digambar, ditulisi, belum melalui api, tidak tahan benturan, kalau dicuci segera luntur dan hilang gambarnya. Kebenaran itu belum menjadi milik kita; kita hanya mengerti di dalam pikiran dan gembira di dalam perasaan. Kita harus ingat, setiap kebenaran harus melalui ujian. Allah mau menaruh Anda dalam tungku untuk dibakar. Banyak orang telah masuk ke dalam tungku itu, namun tidak keluar lagi. Yang dapat keluar setelah melewati api, itulah yang dapat diandalkan. Kebenaran yang dulu Anda dapatkan dalam perasaan dan tidak dapat digunakan, sekarang baru berguna. Dulu adalah buluh, sekarang adalah pedang tajam; dulu hanya indah di luaran, sekarang di dalamnya dapat diandalkan; dulu hanya Anda rasakan, sekarang benar-benar milik Anda.

Allah menggunakan pencobaan‑pencobaan untuk me­nyempurnakan kita. Jika kita nampak hal ini, kita akan berterima kasih kepada Allah yang menyempurnakan kita melalui pencobaan‑pencobaan. Pencobaan‑pencobaan tidak saja membantu kita dalam hal pendidikan rohani dan pe­ngalaman hayat, tetapi juga membantu membentuk karak­ter kita dan perilaku kita dalam hidup kita sehari‑hari. Se­belum percaya Tuhan, boleh jadi Anda seperti seekor singa yang liar. Tetapi setelah sejangka waktu masa pencobaan, “singa” ini telah menjadi jinak. Kita dapat bersaksi bahwa Allah sering menggunakan pencobaan‑pencobaan untuk “menjinak­kan” kita dan dengan demikian juga menyempurnakan kita secara riil dalam hidup kita sebagai orang Kristen.

Dalam 1:2 Yakobus juga mendorong kita untuk meng­anggapnya “sebagai kebahagiaan” apabila kita jatuh ke da­lam berbagai pencobaan. Kita dapat menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan apabila kita jatuh ke dalam berbagai­bagai pencobaan, karena pencobaan‑pencobaan ini menyem­purnakan kita. Perhatikan bahwa dalam 1:2 Yakobus tidak hanya membicarakan pencobaan‑pencobaan melainkan “ber­bagai‑bagai pencobaan” Ini menyatakan bahwa kita seharusnya menganggap semua pencobaan sebagai suatu keba­hagiaan, bukan hanya pencobaan tertentu. Di satu pihak, kita tidak menyukai pencobaan, tentangan, dan penganiayaan. Te­tapi di pihak lain, bila kita mengalami hal‑hal ini, kita perlu menganggap semuanya ini sebagai kebahagiaan, karena Allah menggunakan hal‑hal ini untuk menyempurnakan kita.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Leave a reply