Posted in Articles
Anak daud anak abraham

Anak daud anak abraham

Jadwal pembacaan Alkitab : Kejadian 1-2 dan Matius 1:1-25

Firman Tuhan dalam Matius 1:1,“Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.”

Kristus adalah Anak Daud (Mat. 9:27; 15:22; 20:30-31; 21:9). Salomo, Anak Daud, adalah lambang Kristus dalam tiga aspek utama. Pertama, dia melambangkan Kristus mewarisi kerajaan (2 Sam. 7:12b, 13b; Yer. 23:5; Luk. 1:32-33). Kedua, Salomo memiliki hikmat dan mengucapkan perkataan hikmat. Dalam Matius 12 Kristus, lebih besar dari Salomo (ay. 42), juga memiliki hikmat dan mengucapkan perkataan hikmat. Ketiga, Salomo membangun bait Allah (2 Sam. 7:13a). Sebagai Anak Daud, Kristus membangun bait Allah, gereja.
Anak Daud melambangkan kerajaan. Kristus, Anak Daud, adalah Raja, Penguasa. Sebagai Anak Daud, Kristus membawa kita ke dalam kerajaan surga (Mat. 5:3). Kristus adalah Anak Daud juga agar kita berbagian dalam kuasa ilahi. Menurut Injil Matius Tuhan telah memberi kita kuasa untuk mengikat dan melepaskan. “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat. 16:19).
Yesus Kristus juga disebut Anak Abraham. Ishak, anak Abraham adalah lambang Kristus dalam tiga aspek utama. Pertama, Ishak membawa berkat kepada segala bangsa, Yahudi dan Kafir (Kej. 22:18; Gal. 3:16, 14). Kedua, Ishak dipersembahkan kepada Allah sampai mati dan dibangkitkan (Kej. 22:1-12; Ibr. 11:17, 19). Ketiga, Ishak menerima mempelai perempuan (Kej. 24:67). Ini adalah lambang Kristus sebagai Dia yang dijanjikan yang membawa berkat kepada segala bangsa, yang dipersembahkan kepada Allah sampai mati, yang dibangkitkan, dan yang akan menerima mempelai perempuan-Nya (Yoh. 3:29; Why. 19:7).

Doa :“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Berdoa dan memberitakan

Berdoa dan memberitakan

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Raja – raja  18 –  19:7 dan Kisah para rasul 4:13-31

Kisah para rasul 4:31 , “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”

 

Kisah Para Rasul 4:31 mengatakan, ketika murid-murid sedang berdoa, “Goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Saat itu para murid adalah sekelompok orang Galilea yang tinggal di Yerusalem, yang berada di bawah aniaya dan ancaman penganut agama Yahudi. Namun selain diri Tuhan mereka tidak mempedulikan yang lain. Mereka hanya mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan. Selain Kristus Putera Allah, mereka tidak mengetahui lainnya. Mereka setiap hari tak henti-hentinya berdoa, mengucap syukur dalam segala hal, juga penuh dengan sukacita. Karena itu, mereka tidak memadamkan roh itu (I Tes. 5:17-19), mereka mengobarkan roh mereka seperti mengobarkan api (II Tim. 1:6-7). Mereka adalah orang-orang yang demikian. Mereka tidak hanya dipenuhi Roh Kudus di dalam, di luar juga dicurahi Roh Kudus; mereka memiliki kelimpahan Roh itu. Jika sebuah gelas hanya diisi air setengahnya, itu tidak berlimpah; tetapi jika diisi sampai penuh bahkan meluap, maka air itu akan meluber dan tumpah keluar. Orang-orang saleh yang kekasih dalam Kisah Para Rasul 4:31 penuh dengan kuasa Kristus, dan karena itu meluap keluar, penuh dengan kekuatan membicarakan perkataan Allah.

Setiap orang di antara kita, seharusnya mengalirkan kasih Kristus melalui berbicara. Jika tidak demikian, kita akan seperti ban yang kekurangan angin. Kita tidak dipenuhi, karena kita tidak berdoa. Kita perlu tinggal di dalam Kristus, menjaga diri sendiri di dalam kesatuan yang hidup, kesatuan kehidupan di dalam Kristus. Kita perlu dalam tindakan kita, penghidupan kita, bahkan seluruh diri kita, menuruti roh. Dengan demikian, kita bisa setiap hari, di mana saja, membicarakan Kristus.

 

Doa: “Ya Bapa, buatlah diri kami setiap hari dalam tindak-tanduk kami selalu menuruti pimpinan roh, sehingga kami terbiasa di mana saja dan kapan saja membicarakan Kristus kepada orang-orang yang kami jumpai. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Keutamaan Roh Kudus

Keutamaan Roh Kudus

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yoh. 14:16)

Bagaimana kita menyambut Tamu yang kudus ini? Ini adalah mengenai perkara Allah beserta dengan kita.  Berapa kali dalam setiap hari kita memikirkan bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus? Jika Ratu Inggris mau datang dan tinggal di tengah-tengah sebuah rumah yang kecil, kita tidak akan mengurusi hal-hal yang lain lagi. Tetapi, bagaimana terhadap perkara Roh Kudus yang berhuni di dalam kita? Kita mungkin sama sekali tidak memikirkan perkara ini! Jika kita ingin mendapat perkenan Tuhan, kita tentu akan lebih memikirkan hal ini.

Penyertaan Roh Kudus secara realitas, akan menyalibkan ‘ego’, dalam kondisi yang demikian, manusia akan menanggalkan konsep ego, dan hanya menjadikan Yesus sebagai sasaran kita.

Hayat tubuh alamiah kita diakhiri, hayat rohani akan dimulai; secara riil, seberapa besar kekuatan hayat rohani, sebanding dengan matinya hayat tubuh.

Adanya penyertaan Roh Kudus adalah satu perkara, dipenuhi Roh Kudus juga adalah satu perkara. Saat Roh Kudus menjadi sumber satu-satunya pemikiran kita, itu adalah dipenuhi oleh Dia. Jika Dia dengan sepenuhnya menduduki hati kita, barulah kita memiliki kekuatan menghalangi perkara yang di luar Allah, melindungi hati kita dari dosa, bahkan membimbing setiap gerak-gerik dalam kehidupan dan perjalanan kita.

Adakalanya kita terpaksa harus menyalahkan orang, tetapi daging tidak dapat menyalahkan daging; bahkan daging secara dasarnya tidak akan tunduk; tetapi jika kita hidup di dalam roh, kita dapat memiliki bobot hayat, dan memiliki kuasa Allah, membuat Satan mau tidak mau harus tunduk.

Kebiasaan dalam pembicaraan yang tidak berguna, harus dibatasi. Kita sungguh tidak mengerti, bagaimana gereja Allah dapat menjadi tempat yang tidak dapat membatasi daging. Kita seharusnya memberikan kebebasan yang terbesar bagi Roh Kudus, tetapi tidak memberikan celah apa pun bagi daging.

Roh Kudus masuk ke dalam hati manusia, seperti ‘aliran-aliran air hidup’ yang mengalir dengan kencang, dapat menyuburkan tanah, membasahi gurun. Sifat dan kekuatan Roh Kudus, akan terus mengalir tanpa henti.

Secara teori kita dapat mengalahkan segala musuh, tetapi bukan menggunakan kepandaian dan pengetahuan manusia, melainkan dengan kuasa Roh Kudus. Apakah orang-orang tidak mempercayai firman Allah? Tetapi saya tidak akan meletakkan pedang ini hanya karena ada orang yang tidak percaya pedang Roh Kudus begitu tajam. Kita sungguh tahu bahwa senjata ini begitu tajam, maka kita menggunakannya.

Seorang yang tidak membiarkan Roh Kudus memenuhinya, kebenaran akan kekurangan tenaga di dalamnya, ia tidak mengenal Allah, bahkan tidak jelas akan konsep moralitas, dan rayuan musuh membutakan hati dan pikirannya. Dia menyukai perkara-perkara yang aneh, tetapi malah meragukan kebenaran. Karena dia tidak tahu kekudusan dan sifat Allah, maka dia kekurangan daya pembeda yang rohani, juga kekurangan hati dan roh yang teguh karena pengenalan akan Allah. Dia tidak tahu seorang di dalam Tuhan adalah memiliki segala sesuatu, tidak perlu lagi hal-hal lain yang ajaib dan aneh.

Sumber: J.N. Darby, Kristus adalah Kepuasan kita.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Doa untuk Pertobatan Orang Lain

Doa untuk Pertobatan Orang Lain

“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus.” (Ef. 6:18)

Doa berfaedah bagi pertobatan lain orang. Di dunia ini sedikit sekali orang yang telah bertobat tanpa didoakan oleh orang lain. Dahulu saya kira, bahwa tak seorangpun yang bersangkut paut dengan pertobatanku sendiri, karena saya tidak bertobat di gereja atau di sekolah Minggu, atau karena percakapan-percakapan dengan orang lain. Saya bangun tengah malam dan bertobat. Sepanjang ingatan saya, saya tidak mempunyai pikiran sedikitpun tentang pertobatanku atau tentang sesuatu serupa itu, ketika saya masuk tempat tidur dan tertidur; tetapi saya bangun tengah malam dan bertobat di dalam waktu lima menit agaknya. Beberapa menit sebelumnya, saya merasa seakan-akan saya di dekat kebinasaan yang kekal. Saya telah melangkah dengan satu kaki ke dalamnya dan sedang berusaha melangkahkan kakiku yang lain ke dalamnya. Tadi saya telah mengatakan bahwa tak seorangpun bersangkut paut dengan hal itu, tetapi saya telah lupa kepada doa-doa ibuku; kemudian saya mengerti bahwa salah seorang teman saya sekelas juga telah mendoakan saya sampai saya bertobat;

Berdoa seringkali berhasil, di mana segala sesuatu lainnya telah gagal. Bagaimana segala usaha dan permohonan dari Monica, sama sekali gagal mengenai anaknya laki-laki! Tetapi doa-doanya kepada Allah mengatasi sekalian itu, dan anak yang cabul itu menjadi Agustinus, seorang utusan Allah yang berkuasa. Karena doa-doa, maka musuh-musuh yang paling besar dari Kabar Injil telah menjadi pahlawan Injil yang paling berani, orang-orang berdosa yang amat buruk telah menjadi anak-anak Allah yang benar dan orang-orang perempuan yang hina menjadi orang-orang saleh yang sejati. Alangkah besar kuasa dari doa untuk mencapai ke bawah, di mana pengharapan rupanya telah putus, . . . doa yang mengangkat perempuan dan laki-laki sehingga dapat bersahabat dengan Allah dan mengubah keadaan mereka menjadi serupa peta Allah! Hal itu sederhana dan ajaib! Alangkah sedikitnya kita menghargai senjata yang mengherankan ini!

Dikutip dari: RA Torrey, Bagaimana kita Patut Berdoa (Surabaya: Penerbit Yakin), pp. 21-22.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Dengan Lemah Lembut Menerima Firman yang Tertanam

Dengan Lemah Lembut Menerima Firman yang Tertanam

Yakobus 1:21-25 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. (22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (23)  Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. (24) Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (25) Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Firman Allah bagaikan suatu tanaman hidup, yang ditanamkan ke dalam diri kita dan bertumbuh di dalam kita untuk menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa kita (Yak. 1:21). Kita perlu menerima firman ini dengan lemah lembut, dalam segala kepatuhan, tanpa menentang. Keselamatan jiwa di sini merupakan hasil dari menahan pencobaan yang timbul dari lingkungan (ayat 2 12) dan menolak godaan nafsu (ayat 13 21). Di aspek yang lebih positif, keselamatan jiwa merupakan hasil dari pengubahan yang dikerjakan oleh Roh itu, yang menyerupakan kita dengan gambar Tuhan, dari kemuliaan ke kemuliaan (Rm. 12:2; Ef 4:23; 2 Kor. 3:18).
Kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita. Ungkapan ini menyatakan bahwa firman ini mengandung hayat. Di sini Yakobus menyamakan firman Allah dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita. Dengan demikian, firman menjadi firman yang tertanam. Setelah firman Allah tertanam ke dalam tanah hati kita, firman ini akan bertumbuh dan mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan jiwa kita.
Dalam ayat 21 kita disarankan untuk menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut. Lemah lembut berarti bersikap tunduk, tanpa menentang. Menerima firman dengan lemah lembut berarti tidak menolaknya, bahkan tunduk kepada firman itu. Kita harus menerima firman Allah yang tertanam di dalam kita dengan penuh ketaatan. Apa pun yang Allah katakan, haruslah kita terima dengan mengatakan, “Amin”. Menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut, dengan patuh, berarti dengan mutlak kita terbuka terhadap firman Allah. Kita laksana tanah yang bersedia menerima benih dari petani dan hujan dari langit. Allah menanam atau menabur firman Nya ke dalam hati kita, dan seharusnya kita menerima firman Nya dengan lemah lembut. Inilah menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam. Karena firman ini hidup, maka setelah tertanam ke dalam hati kita, ia akan tumbuh. Kemudian, begitu firman itu bertumbuh, ia akan menyelamatkan jiwa kita.
Dalam 1:14 15 Yakobus berkata, “Tetapi tiap tiap orang dicobai oleh keinginannya (nafsunya) sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Di sini kita nampak bahwa godaan itu berkaitan dengan nafsu, dan nafsu berhubungan erat dengan jiwa. Penyelamatan jiwa meliputi perihal menanggung pencobaan dan menolak godaan godaan. Aniaya, pencobaan, dan godaan umumnya mempengaruhi jiwa kita. Sebagai contoh, seorang saudara yang kehilangan pekerjaan, jiwanya tentu akan menderita. Kebanyakan penderitaan mempengaruhi jiwa. Bagaimana kita dapat menanggung penderitaan? Kekuatan untuk menanggung penderitaan adalah melalui hayat ilahi yang ada di dalam kita.
Jika kita ingin menolak godaan, kita perlu mendapatkan perawatan melalui menerima firman yang tertanam. Kita boleh menggunakan perihal makan sebagai gambaran. Walaupun fisik kita sehat, kita masih perlu makan makanan yang bergizi setiap hari. Walaupun kita mempunyai hayat jasmani, setiap hari kita masih perlu makan. Jika di pagi hari tidak makan pagi, kita tidak mempunyai kekuatan untuk bekerja. Demikian pula prinsip hayat ilahi. Melalui kelahiran kembali Allah menyalurkan hayat Nya ke dalam kita. Tetapi hayat ini masih memerlukan makanan, dan makanan yang kita perlukan adalah firman yang tertanam. Setiap hari kita perlu membaca Alkitab untuk menerima firman Allah. Dalam hayat rohani kita memerlukan “makan pagi” yang baik setiap hari. Sewaktu kita makan makanan pagi rohani kita, kita menerima firman yang tertanam. Ketika Allah menanamkan firman Nya ke dalam kita setiap pagi, firman ini menjadi makanan bagi manusia batiniah kita, dan menguatkan roh kita. Begitu roh kita dikuatkan, ia juga akan menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan mempunyai kekuatan untuk menanggung penderitaan dan menolak godaan. Ini berarti melalui perawatan oleh firman yang tertanam kita mengalami keselamatan jiwa.
Jika jiwa kita tidak diperkuat demikian, jiwa kita tidak akan sanggup menanggung pencobaan dan godaan. Misalnya, jika seorang saudara tidak dirawat melalui firman yang tertanam, jiwanya tidak akan sanggup menanggung penderitaan karena kehilangan pekerjaan atau kehilangan sejumlah uang. Kehilangan semacam itu selalu mempengaruhi jiwanya. Iblis memakai penderitaan penderitaan itu untuk menjatuhkan kita. Lantas, bagaimana agar kita dapat bertahan di tengah penderitaan semacam itu? Jiwa kita dapat menahannya hanya oleh roh yang telah dirawat melalui firman yang tertanam. Memahami hal itu, Paulus berdoa agar kaum saleh dikuatkan dan diteguhkan ke dalam manusia batiniahnya (Ef 3:16). Jiwa kita perlu dikuatkan dalam manusia batiniah, dan manusia batiniah ini adalah roh kita. Bagaimana roh kita bisa dikuatkan dan diteguhkan? Roh kita dikuatkan dan diteguhkan melalui dirawat dengan firman Allah yang tertanam.
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa roh kita dikuatkan oleh firman Allah yang tertanam. Jika pada pagi hari kita memakai sedikit waktu untuk memakan firman Allah, roh kita akan dikuatkan dan diteguhkan. Karena roh kita dikuatkan, maka roh kita akan menopang jiwa kita. Kemudian melalui ditopang secara demikian, jiwa kita akan sanggup menanggung pencobaan pencobaan dan menolak godaan godaan.
Dari pengalaman kita tahu bahwa jika roh kita tidak dikuatkan, dan jiwa kita tidak ditopang oleh roh yang kuat, kita akan mudah dikalahkan oleh berbagai pencobaan dan godaan. Akibatnya adalah kegagalan. Ini berarti walaupun kita telah diselamatkan dalam roh kita, keselamatan setiap hari bagi jiwa kita belum ada. Jadi, setiap hari terjadi ke¬rugian terhadap jiwa kita; bahkan kehilangan jiwa kita. Tahukah Anda mengapa kita kehilangan jiwa kita? Kita kehilangan jiwa karena jiwa kita tidak menerima makanan dari roh kita. Jika roh kita “kempes”, kekurangan udara surgawi, maka roh kita tidak sanggup menopang jiwa kita. Karena itu, kita perlu firman yang tertanam untuk “me-mompa” roh kita. Jika roh kita dipenuhi dengan udara ilahi, roh kita akan kuat dan sanggup menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan diselamatkan.
Setiap hari jiwa kita diuji oleh penderitaan di lingkungan luar kita dan oleh hawa nafsu yang memikat di dalam kita. Karena itu, jiwa kita perlu diselamatkan. Supaya jiwa kita diselamatkan, ia perlu ditopang melalui setiap hari mendapatkan perawatan dari firman yang tertanam. Untuk ini kita perlu setiap hari menerima firman Allah sama seperti kita menerima makanan kita setiap hari. Jika seorang anak tidak mau makan, ia akan menjadi lemah dan tidak sehat. Jika seorang anak menolak makanan yang bergizi, berarti dalam hal makan ia tidak patuh dan tidak lembut. Setiap anak perlu dengan lemah lembut menerima makanan yang disajikan oleh ibunya. Jika ia makan makanan yang sehat sedemikian, ia akan menjadi kuat dan sehat. Demikian pula, kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam.
Menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam juga berarti menerima dan membiarkan hukum yang sempurna bekerja di dalam kita. Dalam 1:25 Yakobus berkata, “Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Hukum yang sempurna ini bukanlah hukum harfiah yang ditulis pada loh batu yang di luar, melainkan hukum hayat yang ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10). Standar moral dari hukum ini sesuai dengan konstitusi kerajaan yang diumumkan oleh Tuhan (Mat. 5-7).
Hukum hayat yang sempurna ini adalah fungsi dari hayat ilahi yang disalurkan ke dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali. Ia akan menyuplai kita sepanjang hidup kristiani kita dengan kekayaan yang tidak terduga dari hayat ilahi untuk membebaskan kita dari hukum dosa dan maut, dan menggenapkan semua tuntutan kebenaran hukum harfiah (Rm. 8:2, 4). Kita memerlukan hukum yang sempurna ini supaya kita bisa menempuh kehidupan yang ibadah, hidup yang takut akan Allah. Kehidupan semacam inilah yang sesuai dengan hati Allah yang adalah kasih, juga sesuai dengan sifat Allah yang kudus. Hukum ini adalah hukum Kristus (1 Kor. 9:21), bahkan adalah Kristus sendiri, yang hidup di dalam kita untuk mengatur kita melalui menyalurkan sifat ilahi ke dalam diri kita, sehingga kita bisa menempuh hidup yang mengekspresikan gambar Allah.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Ujian yang Menghasilkan Ketekunan dan Kemuliaan

Ujian yang Menghasilkan Ketekunan dan Kemuliaan

Yakobus 1:3-5, 12 Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (4) Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. (5) Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya. (12) Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Yakobus menasihati kita untuk menganggap sebagai kebahagiaan, apabila kita jatuh ke dalam berbagai-­bagai pencobaan (Yak. 1:2). Dalam ayat 3 ia meneruskan, “Sebab ka­mu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Iman di sini adalah iman kristiani yang diberi­kan oleh Allah di dalam Kristus (2:1; 2 Ptr. 1:1). Pencobaan dan pembuktian terhadap iman kita, menghasilkan ketekunan. Ketekunan kita meningkat akibat berbagai ujian berupa tentangan dan pen­cobaan. Penganiayaan yang kita alami menghasilkan ketekunan.

Ketekunan berbeda dengan kesabaran. Kita bisa sabar tanpa memiliki ketekunan. Kesabaran kita itu rapuh. Yang kita perlukan adalah suatu kesabaran yang tahan lama. Kesabaran yang tahan lama ini adalah ketekunan. Sewaktu Anda diperlakukan tidak adil oleh seseorang, pertama‑tama Anda melatih kesabaran Anda. Tetapi Anda akan menemukan bahwa kesabaran saja masih belum cu­kup, karena dalam penderitaan karena pencobaan, Anda juga memerlukan ketekunan. Ketekunan berasal dari pengujian, pencobaan, pembuktian terhadap iman kita.

Dalam ayat 4 Yakobus melanjutkan, “Biarkanlah kete­kunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apa pun.” Surat Kiriman Yakobus sangat istimewa dan baik sekali dalam menyajikan tingkah laku orang Kristen, menekankan prak­tek kristiani yang sempurna agar kaum beriman bisa sem­purna dan utuh, tidak kekurangan apa pun. Kesempurnaan perilaku kristiani semacam ini memerlukan pengujian dari penanggulangan pemerintahan Allah (ayat 2, 12) dan kesabaran kaum beriman oleh kebajikan kelahiran ilahi berda­sarkan kelahiran kembali oleh firman yang tertanam (ayat 18, 21). Yakobus mengakhiri ayat 4 dengan kata‑kata, “tidak keku­rangan apa pun.” Keinginannya tidak lain agar mereka yang menerima suratnya akan menjadi lengkap dan utuh dalam praktek kristiani yang sempurna, tidak kekurangan apa pun.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Berbahagia di Tengah Pencobaan dan Ujian

Berbahagia di Tengah Pencobaan dan Ujian

Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.

1 Yohanes 5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.

Filipi 1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.

Surat Yakobus diawali dengan perkataan, “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan: Bersukacitalah! (Tl.). Yakobus adalah sauda­ra kandung Tuhan Yesus (Mat. 13:55) dan Yudas (Yud. 1). Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan ketika Tuhan berada di bumi, tetapi ia menjadi se­orang rasul setelah kebangkitan Tuhan (Gal. 1:19) dan men­jadi penatua terkemuka dalam gereja di Yerusalem (Kis. 12:17; 15:2, 13; 21:18). Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus dianggap sebagai sokoguru gereja. Paulus menyebutnya yang pertama di antara ketiga sokoguru itu (Gal. 2:9).

Dalam 1:2 Yakobus mengatakan, “Saudara‑saudaraku, anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke da­lam berbagai‑bagai pencobaan.” Di sini kita nampak bahwa kebajikan pertama yang berkaitan dengan praktek kristiani yang sempurna yang dibahas oleh Yakobus adalah menang­gung pencobaan‑pencobaan dengan iman. Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, Iblis (1 Yoh. 5:19). Iblis menentang Allah terus‑menerus, dan da­lam setiap kesempatan. Iblis tidak senang bila orang‑orang berpaling kepada Allah dan ia tidak akan membiarkan hal ini. Begitu seseorang berpaling kepada Allah, Iblis akan menghasut orang‑orang di sekelilingnya untuk menganiaya orang itu. Paulus pernah mengatakan bahwa kita, orang-­orang Kristen, ditetapkan untuk menderita penganiayaan (Flp. 1:29). Karena itu, penganiayaan merupakan bagian yang ditentukan bagi kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus. Jadi, aspek pertama dari praktek kristiani yang sempurna adalah menanggung pencobaan‑pencobaan, se­buah istilah yang mencakup penganiayaan.

Penganiayaan adalah suatu penderitaan. Akan tetapi, pencobaan‑pencobaan bukan hanya suatu penderitaan, kare­na pencobaan‑pencobaan adalah suatu penderitaan yang me­ngandung maksud untuk mencobai atau menguji kita. Seba­gai gambaran, kita bisa memakai ujian akhir di sekolah. Murid‑murid tahu bahwa ujian akhir bisa menjadi suatu penderitaan dan pencobaan yang riil. Akan tetapi, sebenar­nya pencobaan semacam itu merupakan suatu pertolongan bagi para murid. Jika di sekolah tidak ada ujian akhir, para murid mungkin akan melalaikan pelajaran mereka. Namun, ketika mereka tahu bahwa ujian akhir telah di ambang pintu, mereka akan berkonsentrasi kepada pelajaran mere­ka dengan rajin. Karena itu, ujian akhir membantu para murid mempelajari hal‑hal yang penting. Karena alasan ini­lah para orang tua murid akan sangat berterima kasih de­ngan adanya ujian akhir, karena mengetahui hal itu mem­bantu anak‑anak mereka untuk memperoleh manfaat dari pendidikan mereka.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
AKU AKAN MEMBERI KELEGAAN

AKU AKAN MEMBERI KELEGAAN

Firman Tuhan dalam Matius 11:28 berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu semua yang bekerja dan menanggung beban berat, datanglah kepada-Ku dan mengaso. Kamu semua orang beragama dan kamu semua orang duniawi yang bekerja dan berbeban berat, datanglah kepada-Ku dan Aku akan memberikan kelegaan.” Perkataan yang alangkah penuh karunia! Bekerja yang disebutkan dalam ayat 28 tidak saja ditujukan kepada pekerjaan untuk berjuang memelihara perintah-perintah hukum Taurat dan peraturan-peraturan agama, tetapi juga ditujukan kepada segala macam upaya untuk mencapai sukses dalam pekerjaan apa pun. Mengaso berarti tidak saja dibebaskan dari pekerjaan dan beban di bawah hukum Taurat dan agama, atau di bawah pekerjaan serta tanggung jawab apa pun, tetapi juga berarti beroleh damai yang sempurna dan kepuasan penuh.

Apakah Anda merasa banyak perkara membuat Anda khawatir? Atau banyak tanggungan yang tidak mampu Anda pikul? Mungkin pula Anda menderita susah karena kegagalan? Tuhan mengundang Anda. Anda boleh datang kepada-Nya untuk menerima kelegaan. Sayang, banyak orang Kristen hidup tanpa kelegaan. Mereka terlalu sering merasa tidak puas, selalu bersungut-sungut. Salah satu sebabnya ialah mereka belum berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi Tuhan menunjukkan kepada kita, syarat memperoleh kelegaan adalah lemah lembut. Ketika jalan dan tujuan kita berselisih dengan jalan dan tujuan Allah, baiklah kita berbalik untuk menerima jalan-Nya. Tanpa hati yang lembut, orang tidak akan memperoleh kelegaan. Lemah lembut adalah syarat pertama untuk memperoleh kelegaan.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, terima kasih atas firman-Mu. Mohon Tuhan berkati kami yang mengalami kesulitan dan beban berat beroleh kelegaan di dalam Kristus. Kami mau datang kepada-Mu. Terima kasih Tuhan Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
BELAS KASIHAN TUHAN

BELAS KASIHAN TUHAN

Firman Tuhan dalam Matius 12:20 berkata, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.”

Orang-orang Yahudi biasa membuat suling dari buluh. Bila buluh itu sudah terkulai, mereka mematahkannya. Mereka juga membuat obor dari sumbu, yang menyala karena minyak. Bila minyaknya habis, sumbu itu akan berasap dan mereka memadamkannya. Sebagian umat Tuhan seperti buluh yang terkulai, yang tidak dapat mengeluarkan suara musik; yang lain seperti sumbu yang berasap, yang tidak dapat menghasilkan terang yang bersinar. Namun Tuhan tidak akan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang berasap. Meskipun Tuhan ditolak, Dia masih penuh belaskasihan. Bahkan kepada mereka yang menjadi buluh yang terkulai, tidak akan Dia patahkan, dan kepada mereka yang menjadi sumbu yang berasap, tidak akan Dia padamkan. Sebaliknya, Dia tetap membuka pintu belaskasihan dan kasih karunia-Nya bagi mereka.

Di antara mereka yang percaya pada Tuhan Yesus hari ini, banyak yang menjadi buluh yang patah terkulai sehinga tidak lagi mengeluarkan suara musik. Aturannya, buluh yang patah terkulai seharusnya dipatahkan dan dibuang. Tetapi Kristus tidak akan melakukan hal ini. Lagi pula, banyak kaum beriman-Nya yang tidak lagi bersinar terang. Aturannya, Dia seharusnya memadamkan mereka semua dan membuang mereka. Tetapi Dia tidak akan melakukan hal ini. Sebaliknya, sebagai Hamba TUHAN yang penuh belaskasihan, Dia akan memakai beberapa di antara mereka yang sebagai buluh yang patah terkulai dan sumbu yang berasap itu. Dia akan menyempurnakan mereka sehingga mereka dapat menjadi sangat berguna dalam tangan-Nya.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, terima kasih atas firman-Mu. Mohon Tuhan berikan kekuatan-Mu kepada kami yang lemah agar kami mengalami penguatan dan bangkit melayani Tuhan, dipakai oleh Tuhan menjadi saluran berkat. Terima kasih Tuhan Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
NELAYAN DAN AHLI TAURAT

NELAYAN DAN AHLI TAURAT

Firman Tuhan dalam Matius 13:52 berkata, “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Tuhan mengharapkan bahwa di antara para pendengar-Nya ada ahli Taurat, bukan semuanya nelayan, seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Andreas. Tuhan Yesus itu bijaksana. Pada peralihan ekonomi baru, Ia harus pergi ke Galilea untuk mencari nelayan yang tak terpelajar. Tetapi setelah terjadi perubahan, perlulah orang-orang yang terpelajar untuk melaksanakan semua misteri itu. Paulus, bukan seorang nelayan Galilea, ia seorang ahli Taurat yang kemudian telah menerima pelayanan kerajaan. Itulah sebabnya ia memiliki perbendaharaan yang berlimpah, harta kekayaan yang banyak.

Gereja Tuhan tidak saja memerlukan orang Galilea yang tidak terpelajar, tetapi juga ahli Taurat. Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu nelayan Galilea harus mendengarkan ini. Kamu kurang cakap melaksanakan isi dari Perjanjian Baru Allah. Aku dapat memakai kamu untuk membuat perubahan, tetapi setelah ada perubahan, kamu kurang cakap. Aku memerlukan beberapa ahli Taurat. Aku memerlukan seorang seperti Saulus dari Tarsus yang belajar di bawah Gamaliel.” Dalam hal ini kita nampak hikmat Tuhan.

Hai orang-orang muda, Anda perlu kuliah di perguruan yang terbaik untuk memperoleh gelar. Kemudian Anda menjadi terpelajar. Hari ini Tuhan tidak saja memerlukan nelayan orang Galilea untuk membuat perubahan, Dia pun memerlukan ahli Taurat. Kita berharap sebagian dari kaum muda akan menjadi ahli-ahli Taurat. Bagi pergerakan Tuhan hari ini kita perlu “nelayan-nelayan” maupun “ahli-ahli Taurat”.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, terima kasih atas firman-Mu. Mohon Tuhan memberi kami tekad dan kesungguhan untuk bertekun dalam kebenaran firman Tuhan agar kami didapat oleh kebenaran dan dapat memotong dengan lurus kebenaran. Terima kasih Tuhan Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone