Posted in Articles
Kristus Sahabat kita

Kristus Sahabat kita

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yohanes 15:15) 

Saya pernah membaca di suatu tempat bahwa ketika Michael Angelo sedang berada dipuncak ketenarannya, seorang anak laki-kali bernama Raphael, yang dipersiapkan menjadi penggantinya, terlebih dulu diperkenalkan kepadanya sebagai seorang murid yang menjanjikan. Pada awalnya, anak laki-laki tersebut dipekerjakan pada pekerjaan paling sederhana di studio, membersihkan kuas-kuas dan mencampur cat-cat, tetapi seraya dia mengembangkan kualitas ketepatan, ketepatan waktu, dan simpati, dia dipercayakan tanggung jawab yang lebih, hingga sang guru menjadikan dia temannya dan orang kepercayaannya. Jadi hubungan kita dengan Kristus, awalnya, sebagai  umat tebusan dari perhambaan Satan, menjadi hamba-Nya, dan Dia memanggil kita sahabat-sahabat-Nya.

Seorang sahabat akan menyatakan diri-Nya. Seluruh dunia mungkin menganggapnya mengetahui seorang orang yang terkenal, tetapi sesudah itu, jika dia memanggil saya sahabatnya, saya mengharapkan untuk bisa lebih dekat dengannya dan mendengar dari bibirnya sendiri informasi-informasi rahasia. Itulah hubungan kita dengan Tuhan Yesus. Dia menyatakan diri-Nya kepada mereka yang mengasihi Dia, dan memegang firman-Nya, sebagaimana Dia tidak demikian terhadap dunia.

Seorang sahabat akan tertarik akan kegagalan dan kesuksesan kita. Demikian pun dengan Tuhan kita. Ketika Dia melihat bahaya-bahaya mengancam kita, tidakkah Dia melakukan doa syafat khusus pada jam pencobaan tersebut? Jika kita gagal, Dia menjumpai kita dengan kasih sayang yang sama lembutnya, tidak menjauhkan diri dari kita, tetapi benar-benar hanya merasa kasihan, siap untuk menunjukkan penyebab kegagalan kita dan mendorong kita untuk mencoba lagi. Jika kita berdiri pada tumpuan kita, Dia menjumpai kita sebagainya kita datang dari peperangan, gembira untuk kita, ingin sekali meyegarkan kita dalam keletihan kita, berhati-hati untuk menyembuhkan segala luka yang mungkin telah kita peroleh.

Persahabatan yang sedemikian adalah dari Yesus. Dia selalu sama, kasih-Nya tidak pernah menyusut, penyataan-Nya tidak pernah lalai. Bukankah menguntungkan membuat segala usaha sedemikian untuk memegang perintah-Nya supaya seluruh penyerahan kita kepada-Nya akan membujuk seluruh penyerahan-Nya kepada kita?

Doa: “Bapa Surgawi, kami berdoa supaya Yesus Kristus dapat menjadi terkasih bagi kami. Semoga kami mengasihi Dia sebagai Sahabat yang pribadi, dan menyembunyikan diri kami dalam kesadaran setiap jam dari kehadiran-Nya. Semoga kami tidak memiliki cita rasa dan hasrat akan hal-hal yang ditentang-Nya. Biarlah kasih-Nya mendesak kami tidak hidup untuk diri kami sendiri, tetapi untuk kemuliaan-Nya.”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Berdoa Menerima Roh Kudus

Berdoa Menerima Roh Kudus

Berdoa adalah cara yang ditunjukkan oleh Allah sendiri untuk menerima Roh Kudus. Hal ini sangat jelas di dalam Alkitab. Tuhan Yesus berkata: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! la akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Lukas 11 : 13). Manusia zaman ini ada yang mengatakan kepada kita, dan mereka orang-orang yang amat baik juga, “Jangan engkau berdoa untuk meminta Roh Kudus.” Tetapi apakah yang diperbuat mereka dengan pengumuman yang sederhana dari Tuhan Yesus Kristus, “Apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya.” Kisah Para Rasul 4:31 berkata, “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Kisah Para Rasul 8:15 berkata, “Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus.”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Kristus Teladan kita

Kristus Teladan kita

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Filipi 2:5)

Dalam paragraf dari mana kata-kata di atas diambil, deskripsi yang luar biasa dari Tuhan kita untuk membagikan rasa malu dan dukacita kita disebutkan oleh rasul, yaitu supaya hal tersebut dapat menjadi dorongan dan inspirasi yang hidup kepada diri kita, tidak memandang kepada perihal diri kita sendiri, tidak memegangnya dengan genggaman yang erat, tetapi supaya rela untuk mengikuti jejak Yesus Kristus, yang menjadi instrumen yang melaluinya Allah menempakan tujuan penebusan-Nya.

Dituntun dengan Roh Allah, rasul membuka jangka-jangka imajinasi dan imannya, dan menempatkan sebuah poin atas takhta Allah yang kekal, dan yang lain atas salib yang memalukan di mana Yesus mati, dan menunjukkan kepada kita langkah-langkah yang olehnya Dia menjangkau lebih dekat dan lebih dekat kepada kebutuhan dan dosa manusia; yaitu, karena Dia telah merangkul kita dalam tingkat kita yang rendah, Dia dapat membawa kita kembali dengan diri-Nya kepada takhta Allah; dan dengan menyatukan diri-Nya dengan dosa dan dukacita kita, Dia akhirnya dapat menyatukan kita dengan kemuliaan yang dimiliki-Nya dengan Bapa sebelum dunia dijadikan.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Membuat Awal yang Segar

Membuat Awal yang Segar

yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef. 4:22-24)

Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus…” (Rm. 13:14)

Kita semua bisa membuat sebuah awal yang segar! Seberapa pun jauhnya kita telah naik, selalu ada sesuatu yang lebih tinggi, dan seberapa pun jauhnya kita telah jatuh, selalu mungkin untuk membuat sebuah awal yang segar. Kita perlu bersekolah di sekolah Kristus dan diajar oleh-Nya (Ef. 4:20-21).

“Manusia lama” yang harus kita “tanggalkan” secara jelas adalah cara hidup kita yang lama. Jika kita belum sepenuhnya menanggalkannya,  marilah kita melakukannya sekarang dengan tindakan segera dari iman dalam Roh yang hidup. Seorang pengemis tidak memerlukan waktu yang lama untuk menanggalkan pakaian compang-campingnya dan menggantinya dengan baju setelan yang baru, dan tidak diperlukan waktu yang lebih panjang untuk meninggalkan kebiasaan dan pemikiran, cara berbicara dan kehidupan yang tidak berharga dari anak-anak Allah. Lakukan sekarang, dan carilah Roh Kudus untuk terus memperbarui Anda di dalam roh pikiranmu.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Kekayaan Anugerah Allah

Kekayaan Anugerah Allah

“Dan Allah, sumber segala anugerah” (1 Pet. 5:10)

Oh! Hati manusia, atau hanya pikiran manusia, kapan dapat mencapai anugerah Allah dan puncaknya kesabaran?

Alasan manusia dapat diterima dalam kelapangan Kristus yang tak terbatas, ini pastinya bukan karena manusia memiliki hal yang menarik, tetapi karena di dalam Allah ada kasih yang besar.

Pandangan orang pada umumnya terhadap belas kasihan Allah, tidak memahami Allah adalah karena Tuhan Yesus telah mengalirkan darah, baru menghapuskan dosa manusia;  hanya mengira Allah itu acuh tak acuh, tidak memperhitungkannya. Jika benar demikian, itu bukan anugerah.

Di tempat yang jauh anak yang hilang itu pergi, tidak ada barang yang gratis, bahkan makanan babi pun tidak terkecuali. Satan ingin menjual apapun, bahkan menjual dengan harga mahal, ingin mengambil nyawa manusia sebagai gantinya. Kita di dalam dunia, kita harus bayar harga untuk membeli barang. Awalnya di dunia ini ada prinsip, adalah “setiap barang ada harganya…” Apakah kita ingin mencari orang yang dapat memberi dengan cuma-cuma? Harus ingat, kita harus datang ke hadapan Allah.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Berdoa bagi Kekhawatiran

Berdoa bagi Kekhawatiran

Berdoa di dalam tiap-tiap keperluan dan kekhawatiran dan kebutuhan hidup, dengan ucapan syukur, adalah tujuan yang Allah telah menunjukkan supaya kita menerima kebebasan dari segala kekhawatiran dan sejahtera Allah yang melebihi segala akal.

Rasul Paulus berkata,

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Kepada banyak orang, hal tersebut sepintas lalu merupakan suatu kehidupan yang indah, tetapi di luar kemampuan manusia biasa yang keadaannya fana; tetapi ayat itu menerangkan kepada kita, bagaimana kehidupan itu dapat dicapai oleh tiap-tiap orang-orang Kristen. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga.” Sisa dari ayat itu menerangkan kepada kita bagaimana jalannya yang amat sederhana itu: “Tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Tidaklah hal ini cukup jelas dan sederhana adanya? Karena itu berkomunikasilah selalu dengan Allah, dan bila sesuatu kesukaran atau gangguan, besar atau kecil, mendatangi engkau, katakanlah hal itu kepada Dia, dan ucaplah selalu syukur kepada tiap-tiap perkara yang telah dikerjakan bagimu. Apakah hasilnya nanti? “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Berdoa sehingga Penuh Sukacita

Berdoa sehingga Penuh Sukacita

Berdoa dalam Nama Tuhan Yesus Kristus adalah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada murid-muridNya untuk menerima sukacita yang berlimpah-limpah.

Di dalam Yohanes 16:24 Tuhan mengatakan hal ini dengan sederhana dan indah,

“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”

Siapakah orangnya yang tidak berharap supaya sukacitanya disempurnakan? Dan jalan supaya hal itu dapat terlaksana ialah dengan berdoa dalam Nama Tuhan Yesus. Kita mengenal orang-orang yang sukacitanya disempurnakan: sesungguhnya kesukaannya berlimpah-limpah, bersinar di dalam matanya; ke luar dari dalam mulutnya dan ternyata dalam hal mereka memberi salam kepada kita. Berhubungan dengan mereka adalah seperti berhubungan dengan mesin listrik yang bermuatan dengan sukacita besar. Maka ternyatalah bahwa orang yang semacam itu adalah orang yang menggunakan banyak waktu untuk berdoa.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Pekerjaan Musuh

Pekerjaan Musuh

Mengapa Iblis dan sistemnya begitu banyak dibuktikan dalam pelayanan ini? Banyak keberatan yang diajukan, yang tidak perlu ditangani secara terpisah. Jawabannya akan secara umum, yang mencakup sebagian besar penjelasan ini.

Pertama. Jangan pernah berpikir bahwa kuasa Iblislah yang menjadi obsesi kita.  Banyak orang berpikir bahwa kami menempatkan sang musuh dalam posisi yang hanya sedikit di bawah yang maha kuasa, dan mengijinkan atribut-atribut yang hampir sama dengan Allah sendiri. Ini sungguh benar salah. Jika ini adalah soal kekuasaan, Iblis tidak dapat berdiri di hadapan Tuhan selama lima menit. Ini bukan kekuatan tapi hak. Daging adalah warisan dan dasar hak milik Iblis dan kegiatannya yang sah, dan dia harus memilikinya. Sumber dayanya tidak diragukan, sangatlah besar, dan dia menggunakan semua ini ketika dia dapat menemukan alat yang cocok untuk ekspresi mereka dan tujuannya. Alat ini adalah “daging” sebagai kondisi dan hukum aktif dari sifat atau ciptaan yang telah jatuh. Sehingga, karena kepercayaan bahwa kondisi jatuh ini bukanlah akhir dari pekerjaan Iblis, tetapi hanya pengurangan hal-hal ke dalam suatu kondisi yang menjadi cocok untuk pekerjaan yang jauh lebih besar di pihaknya, kami harus menekankan –

1. Kebutuhan untuk “dibunuh dalam keadaan sebagai manusia” dengan “disalibkan dengan Kristus.”

2. Jalan dan hidup dalam Roh dan bukan dalam daging dimungkinkan hanya dengan persekutuan di dalam kebangkitan, dan oleh karena itu

3. Penghancuran (secara harfiah, “memadamkan aksi”) dari pekerjaan Iblis dengan menetap di dalam Salib.

Hanya sedikit daging saja dalam kehidupan pribadi seseorang, atau dalam persekutuan Kristen dapat memberikan musuh sarana untuk mengerjakan malapetaka yang mengerikan dan untuk merampok efektivitas rohani yang melampaui ukuran tertentu.

Maka hal ini harus terus diingat bahwa Kitab Suci dari Kejadian sampai Wahyu menjelaskan bahwa bukan hanya kondisi manusia yang merupakan dasar dari kegiatan Ilahi, namun sistem rohani palsu yang di tempat yang berbeda dan di zaman yang berbeda telah mewujudkan dirinya dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Di belakang sistem-sistem agama ada kekuatan rohani yang cerdas yang semuanya bertentangan dengan Allah dan tujuan-Nya “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu.”

Sampai sifat konflik kita diakui dan kita menerima arti salib Kristus dalam arah ini, kita akan selalu menemukan bahwa ada sebuah dunia yang terletak di luar kekuatan efektivitas kita. Kita akan pergi sampai sejauh tertentu, tetapi di luar itu kita terpukul dan kebingungan. Kitab Suci tidak perlu dikutip untuk menunjukkan hal ini, dan sungguh ada begitu banyak yang dapat dikutip.

“Kenapa kita tidak bisa?” – Ini mungkin pertanyaan tragis yang muncul karena kegagalan untuk mengenali sifat dari masalah ini dan sifat dari alat.

Penelitian sederhana dari kata “kuasa” dalam dua bentuk Yunani-nya dalam Perjanjian Baru sudah cukup untuk menunjukkan bahwa yang pertama dari ini – otoritas atau yurisdiksi – berkaitan dengan suatu posisi yang dikenakan di sebuah kerajaan rohani yang unggul dari apa yang ada sebelum ciptaan dunia dan jatuhnya manusia. Kuasa yudisial ini diakibatkan dari kehancuran dasar hukum lain dari hirarki rohani yang menentang. Pemberontakan baru kekuatan rohani dan dampaknya pada kesadaran Kristen hari ini, akan menciptakan suatu situasi yang hanya mereka yang tahu sifat, metode dan maksudnya, dan hubungannya dengan salib Kristus akan mampu menghadapi.

Jika saja gereja menetap dengan konsepsi rohani di latar belakang hal-hal yang begitu nyata dalam Perjanjian Baru, gelombang kekuatan rohani yang begitu parah dalam roh, pikiran, dan tubuh ini, tidak akan memiliki kesempatan dan keberhasilan yang sekarang mereka miliki. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk kesaksian yang konstan dan fokus yang kuat pada keunggulan yurisdiksi orang-orang kudus di dalam “Kepala Berdaulat” di atas wewenang Iblis ini.

Sistem ini merupakan satu, baik itu di balik dukun Afrika maupun ilmuwan ilmiah, dan prinsip-prinsip untuk menghadapi semua ini adalah sama di seluruh dunia.

“Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging (ini adalah sifat jatuh manusia),” tetapi kekuatan-kekuatan yang menemukan sifat jatuh manusia sebagai sarana dapat digunakan untuk mengejar tujuan mereka untuk mencoba menggagalkan kedaulatan Kristus.

Kita tidak terobsesi, tetapi hanya “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.” Ini bukan sebuah penjelasan pada sistem Iblis tetapi hanya penjelasan atas sikap yang diambil.

Disadur dari: T. Austin-Sparks, “Saksi dan Kesaksian,” Mei 1926, Jilid 4-5.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Kedudukan Salib

Kedudukan Salib

Mengapa kami begitu memegahkan salib, dan selalu menyebutnya terus-menerus? Mengapa tidak berbicara tentang kebangkitan, Roh Kudus, kedatangan kedua, dan lain-lain, dalam ukuran yang sama?

Pertama, biarkan dikatakan bahwa kematian secara fisik, atau salib dalam bentuk materi, tidak ada dalam pikiran ketika kata salib digunakan. Mentalitas yang menciptakan gambar fisik dalam hal-hal rohani selalu terbuka untuk berbagai bahaya dan kesalahpahaman, seperti dapat terlihat dari beberapa bentuk dari salib. Realitas rohani yang merangkul semua tindakan-tindakan yang dapat terlihat dalam sejarah masa lalu harus mengatur konsepsi kita tentang salib.

Dengan cara yang sama ketika “darah” disebutkan, banyak yang menemukan rasa jijik dan perasaan muak muncul dalam diri mereka. Gambaran yang ada dalam imajinasi mereka yang telah diajarkan dan diterangkan secara rohani bukanlah cairan berwarna merah. Darah dan hidup adalah istilah sinonim dan “penumpahan darah” dalam kata lain adalah, “menyerahkan nyawa (atau hidup) ke dalam maut.”

Kedua, baiklah hal ini sungguh ditekankan bahwa salib adalah dasar untuk segala sesuatu yang lain, dan semua yang lain berhubungan dengan salib. Tidak akan ada pengalaman subjektif dari kebangkitan, kenaikan, dan kuasa hidup dalam Kristus, kecuali hanya dengan kita yang dari awal, dan selanjutnya telah terus dibaptis ke dalam kematian-Nya, dan “senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh.” Salib tidak pernah meninggalkan kita dan kita tidak pernah melampaui salib. Tidak ada Pentakosta sampai Golgota telah terjadi, dan bahkan kemudian pekerjaan Roh Kudus adalah untuk terus membawa kita pada satu sisi semakin dalam ke salib, sehingga, pada sisi lain Dia dapat membawa kita lebih penuh ke dalam kebangkitan. Paulus selalu menghubungkan kedua ini bersama. Ambisinya adalah untuk “mengenal Dia dalam kuasa kebangkitan-Nya,” dengan menjadi sekutu dalam penderitaan-Nya, di mana ia “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.”

“Kedatangan Kedua” bukanlah suatu peristiwa yang terisolasi dalam sejarah, tetapi ada pada titik pemenuhan karya salib, dan harus menunggu sampai saat itu. Ketika kita melampaui lebih dari itu, bahkan dalam kemuliaan, hal ini akan tetap sebagai “ANAK DOMBA (seperti telah disembelih) di tengah-tengah takhta.” Salib adalah kekal. Salib adalah pusat roda, dan semua hal lain adalah jari-jari yang terikat dengan pusat itu, bergerak keluar dari sana, dan pada saat yang sama datang ke sana. Biarkan ayat-ayat berikut dipertimbangkan: Filipi 3:10; 2 Korintus 4:10,11,12; Roma 8:36; 2 Korintus 1:8,9; Roma 8:18; 2 Korintus 13:4.

Sumber: T. Austin-Sparks, “Saksi dan Kesaksian,” Mei 1926, Jilid 4-5.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Berdoa Menerima Rahmat

Berdoa Menerima Rahmat

Berdoa itu satu jalan yang ditunjukkan oleh Allah supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia (anugerah) untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Ibrani 4:16 adalah salah satu ayat yang paling sederhana dan manis sekali di dalam Alkitab, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Kata-kata itu menerangkan dengan jelas, bahwa Allah telah menunjukkan suatu jalan, bagaimana kita dapat mencari dan menerima rahmat dan anugerah. Jalan itu ialah berdoa: dengan sepenuh hati, dengan keyakinan, dan dengan mengucapkan kata-kata yang terang. Kita menghadapkan diri kepada takhta rahmat, yaitu tempat Allah yang Mahakudus, di mana Imam Besar, Tuhan Yesus Kristus, yang mengasihi kita telah masuk untuk keperluan kita.

Kita memerlukan rahmat dan anugerah yang harus kita miliki, jikalau tidak, maka kehidupan dan usaha kita akan gagal sama sekali. Berdoa itulah jalan akan menerima rahmat dan anugerah. Ada anugerah yang besar sekali bagi kita dan kita telah mengalami mendapatnya dengan berdoa. Alangkah baiknya, apabila kita mau menyadari keagungan anugerah Allah yang kita miliki sebagai jawaban kepada permintaan kita, yaitu betapa tingginya, dalamnya, panjang dan lebarnya; mengingat hal itu, tentu kita akan menggunakan waktu kita lebih banyak untuk berdoa. Ukuran dari anugerah yang diberikan kepada kita ditentukan oleh ukuran dari doa-doa kita.

Siapakah orangnya yang tidak merasa, bahwa ia membutuhkan anugerah yang bertambah-tambah? Pintalah supaya anugerah diberikan. Bertekunlah dan jangan Ielah di dalam doamu. Di dalam hal ini Allah suka supaya kita seperti orang minta-minta yang tidak malu: sebab hal ini menunjukkan iman kita kepada Dia, dan la sangat berkenan kepada iman. Sebab oleh “tidak malu” di dalam doa kita, Ia akan bangkit dan memberi kita sebanyak yang kita butuhkan (Lukas 11 : 8). Alangkah sedikitnya rahmat dan anugerah yang dikenal oleh kebanyakan dari kita, sedang sebenamya kita mungkin menerima hal itu berlimpah-limpah.

Disadur dari: RA Torrey, Bagaimana kita Patut Berdoa (Surabaya: Penerbit Yakin), pp. 11-12.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone