Membuka Pintu Injil

Membuka Pintu Injil

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan pasal 20 – 21 dan Markus pasal 13

Markus 13:10 “Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa”

Dulu di London, ada seseorang bertemu dengan seorang penginjil. Orang itu bertanya kepadanya, “Bukankah tuan pernah memberitakan Injil di Paris? Tahukah tuan, aku sekarang sudah percaya Tuhan Yesus?” Penginjil itu berkata kepadanya, “Baik sekali, jika Anda sudah percaya.” Kemudian orang itu melanjutkan, “Pada hari itu, hanya satu perkataan yang menyebabkan aku percaya Tuhan Yesus.” “Perkataan apa?” tanya penginjil itu. Jawabnya, “Perkataan yang tuan katakan, bahwa palang pintu sorga ada di luar!” Sungguh benar! Palang pintu sorga memang ada di luar. Jika Anda tidak mau masuk, Anda sendirilah yang salah. Andaikata palang pintu sorga ada di dalam, bagaimanapun Anda tidak dapat masuk ke dalamnya. Jika Allah senang membukanya, baru dibuka-Nya; tetapi jika Ia tidak senang, Ia tidak akan membukanya. Anda hanya dapat mengetuk pintu sorga dari luar. Namun, kalau palang pintu sorga itu ada di luar, persoalannya bukan pada Allah, melainkan Anda mau atau tidak masuk ke dalamnya.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Mengasihi Allah

Mengasihi Allah

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan 17 – 19 dan Markus 12:18-44

Markus 12:30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”

Satu perkara yang besar dalam kehidupan orang Kristen adalah mengasihi Allah. Tidak ada pengajaran manapun yang mengajarkan hal yang sedemikian. Dalam Markus 12:30 inilah Tuhan Yesus mewahyukan perkara mengasihi Allah. Mengapa kita perlu mengasihi Allah? Satu Yohanes 4:19 memberi tahu kita bahwa “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” Allah menjadi manusia dan mati tersalib bagi kita adalah salah satu bukti Dia mengasihi kita hingga puncaknya. Sehingga adalah hal yang logis, masuk akal, dan sewajarnya ketika kita memiliki respon untuk mengasihi Allah. Lalu bagaimana kita mengasihi Allah? Tuhan Yesus memberitahu bahwa kasih kita kepada Allah haruslah kasih dengan standar tertinggi. Kasih dengan segenap jiwa kita, segenap akal budi kita, dan segenap kekuatan kita.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Ingatlah Status kita!

Ingatlah Status kita!

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan  15 – 16 dan Markus 12: 1 – 17

Markus 12:17a “Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” 

Markus 12:13-17 menceritakan bagaimana Tuhan Yesus diuji oleh orang Farisi dan Herodian perihal membayar pajak kepada Kaisar, apakah hal tersebut diperbolehkan atau tidak. Atas pertanyaan tersebut, Dia menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Ini menyatakan bahwa kita harus melakukan kewajiban kita sesuai dengan status kita. Misalnya, sebagai warga negara dari suatu negara, kita harus memenuhi kewajiban warga negara, dan sebagai anak-anak Allah, kita harus memenuhi kewajiban anak-anak Allah.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Asal Tidak Bimbang dan Percaya

Asal Tidak Bimbang dan Percaya

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan pasal 13 – 14 dan Markus pasal 11

Markus 11:23 “Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”  

Dalam kitab Injil kita dapat melihat bahwa ada yang unik bagaimana Tuhan melakukan, seperti menyembuhkan orang yang sakit pendarahan “Dia berkata: Asal kujamah saja jubahnya, aku akan sembuh” (Mrk. 5:28).  Saat itu Tuhan tidak terlihat mau menyembuhkan perempuan itu. Tapi dengan iman perempuan itu menjamah jubah Tuhan pasti sembuh. Dia menjamah jubah Tuhan dan saat itu juga berhentilah pendarahannya. Di sini kita bisa melihat karena imannyalah ia mendapatkan kesembuhan. Seorang perwira hanya meminta pada Allah memberikan sepatah kata dan dia beriman hambanya akan sembuh (Luk.7:7). Dan seketika itu Dia tidak pernah menemukan iman sebesar itu diantara orang Israel. Dua kisah ini memperlihatkan iman mereka yang besar, tidak bimbang hati dan percaya mereka pasti mendapatkan apa yang mereka minta pada Tuhan.

Keadaan yang sering terjadi, saat kita meminta sesuatu pada Tuhan, kita masih tidak sepenuhnya percaya mendapatkannya bahkan selesai berdoa masih bimbang hatinya. Pertanyaan hari ini bagaimana sikap doa kita? Apakah sewaktu doa kita menjamah Tuhan seperti perempuan itu menjamah jubah Tuhan? Apakah kita meminta sepatah kata dari Tuhan seperti perwira itu? Dan perkataan Tuhan menjadi iman kita? Kita perlu berpaling kembali pada Tuhan. Doa kita bukan hanya meminta tapi doa yang bisa menjamah hati Tuhan dan ada perkataan-Nya yaitu firman-Nya tinggal dalam hati kita menjadi iman kita (Rm. 10:17). Doa dengan iman, tidak bimbang hati dan percaya saja bahwa kita telah mendapatkan yang kita minta dan doakan (Mrk. 11:24). Jika kita mempraktekan sikap doa yang demikian, kita akan melihat bagaimana Tuhan menjawab doa kita.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, ajarlah kami untuk berdoa dengan iman terhadap firman-Mu. Jagalah kami agar kami tidak bimbang, tetapi percaya sepenuhnya kepadamu. Terima kasih Tuhan Yesus.  Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Menjadi Terbesar adalah Melayani

Menjadi Terbesar adalah Melayani

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan 9 – 12 dan Markus 10

Markus 10:43b  “…Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”

Satu teladan dari Tuhan, bagaimana Ia mengasihi manusia adalah dengan cara datang ke dunia dan  melayani manusia. Berbeda dengan pikiran manusia, yang berpikir Tuhan harusnya datang dengan menunjukkan kemuliaan-Nya dan kebesaran-Nya. Pikiran Tuhan hanya mau melayani tapi pikiran kita sama seperti pikiran murid Tuhan, yang meminta kelak dalam kemuliaan-Nya dapat duduk di sebelah kanan dan kiri-Nya (Mrk. 10:37). Tuhan pernah berkata:“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya (Mrk. 9:35). Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya (Mrk. 10:43-44).

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Menempuh Kehidupan yang Manusiawi

Jadwal pembacaan Alkitab : Yer. 6-7 dan 1 Tim. 5.

  1 Tim. 5:1 “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu.”  

Kita semua perlu belajar menjadi manusiawi. Pada kenyataannya, semakin rohani, kita akan semakin manusiawi. Bila kita mau memperhidupkan Kristus, kita harus belajar menjadi manusiawi dengan murni. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia sangat manusiawi.

Dalam 5:1-16 kita nampak bahwa Paulus menyuruh rekan sekerjanya yang masih muda, Timotius untuk berkontak dengan orang-orang kudus secara manusiawi. Ayat 1 mengatakan, “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegurlah dia sebagai bapak.” Memperlakukan orang yang lebih tua sebagai seorang bapak tentunya berperilaku dalam sikap yang sangat manusiawi. Berhubungan dengan saudara-saudara generasi yang lebih tua, saudara-saudara muda hendaknya memperlakukan mereka sebagai bapak. Paulus juga memberi tahu Timotius untuk memperlakukan “orang-orang muda sebagai seorang saudara; perempuan-perempuan tua sebagai ibu, dan perempuan-perempuan muda sebagai adik”. Timotius tidak mengambil posisi yang tinggi sebagai uskup, dengan menganggap dirinya sendiri lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, ia harus berperilaku sebagai seorang saudara terhadap saudara dan saudari muda, dan sebagai anak terhadap bapak, ibu. Memperlakukan orang-orang kudus sedemikian rupa adalah berperilaku secara manusiawi.

Kontak kita dengan orang-orang kudus haruslah di dalam suasana yang benar dan dengan sikap dan roh yang tepat. Suasana, sikap, dan roh dalam kontak kita dengan orang lain sangatlah besar artinya. Jika seorang saudara muda menganggap dirinya tinggi ketika berhubungan dengan orang yang lebih tua, hubungan mereka akan rusak. Tetapi jika ia berkontak dengan orang yang lebih tua sebagai seorang anak yang berbicara kepada bapa, persekutuan mereka akan mesra, penuh kasih, dan bahkan membangkitkan semangat.

Doa: “Ya Bapa, ajarilah kami untuk menjadi manusiawi, tidak menganggap diri kami lebih tinggi dari orang lain. Mohon hikmat-Mu membawa kami dapat berkontak dengan tepat dengan semua orang yang kami jumpai. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Latihlah Dirimu Beribadah

Jadwal pembacaan Alkitab : Yer. 4-5 dan 1 Tim. 4.

1 Tim. 4:8 “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”

Dalam teks Yunani dari Perjanjian Baru, kata untuk “latihan” adalah sama dengan kata dalam bahasa Inggris “gymnastics.” Pada hari-hari ketika Rasul Paulus menulis surat-surat kiriman rasul, latihan-latihan senam sedang dipraktekkan oleh orang-orang Yunani. Oleh karena itu, latar belakang sejarah kata yang digunakan oleh Paulus merupakan latihan senam secara badani. Bahkan hari ini, orang-orang sedang mempelajari terus-menerus bagaimana untuk melatih tubuh mereka untuk kesehatan fisik mereka. Namun, Rasul Paulus menggunakan kata ini untuk menekankan perlunya jenis latihan yang lain yang tidak berhubungan dengan tubuh fisik. Latihan senam (gymnastic) semacam ini berhubungan dengan perkara ibadah secara pribadi.

Mungkin beberapa saudara telah melatih atau latihan senam tiap hari bagi tubuh kita. Jadi, hal ini baik, karena Paulus telah mengatakan bahwa latihan badani terbatas gunanya. Latihan badani itu baik, tetapi hanya untuk suatu tingkat tertentu saja. Namun, Paulus menggambarkan jenis latihan senam lainnya yang baik untuk selamanya—baik untuk hari ini maupun untuk kekekalan! Dia mengatakan bahwa jenis latihan senam yang kedua ini memberikan kita keuntungan bagi hidup hari ini dan bagi hidup dalam kekekalan. Oleh karena itu, kita seharusnya lebih memperhatikan latihan senam (gymnastic) yang lain ini, latihan roh kita.

Kita harus mengetahui bagaimana melatih roh kita untuk berkontak dengan Tuhan. Untuk melatih roh kita, kita harus menjaga hati nurani kita melalui menerapkan pembasuhan darah. Jalan untuk melatih roh kita adalah melalui berdoa. berseru kepada nama Tuhan terus-menerus, dan menerima perawatan dari firman melalui doa-baca. Lalu di dalam ibadah-ibadah gereja, kita perlu melatih roh kita dengan berdoa, memuji, atau berbicara bagi Tuhan.

Doa: “Ya Bapa, mohon belas kasihan-Mu membawa kami menjadi orang yang giat melatih diri beribadah. Ajarilah kami bagaimana melatih roh kami untuk berkontak dengan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone