Posted in Articles
Dengan Lemah Lembut Menerima Firman yang Tertanam

Dengan Lemah Lembut Menerima Firman yang Tertanam

Yakobus 1:21-25 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. (22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (23)  Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. (24) Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (25) Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Firman Allah bagaikan suatu tanaman hidup, yang ditanamkan ke dalam diri kita dan bertumbuh di dalam kita untuk menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa kita (Yak. 1:21). Kita perlu menerima firman ini dengan lemah lembut, dalam segala kepatuhan, tanpa menentang. Keselamatan jiwa di sini merupakan hasil dari menahan pencobaan yang timbul dari lingkungan (ayat 2 12) dan menolak godaan nafsu (ayat 13 21). Di aspek yang lebih positif, keselamatan jiwa merupakan hasil dari pengubahan yang dikerjakan oleh Roh itu, yang menyerupakan kita dengan gambar Tuhan, dari kemuliaan ke kemuliaan (Rm. 12:2; Ef 4:23; 2 Kor. 3:18).
Kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita. Ungkapan ini menyatakan bahwa firman ini mengandung hayat. Di sini Yakobus menyamakan firman Allah dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita. Dengan demikian, firman menjadi firman yang tertanam. Setelah firman Allah tertanam ke dalam tanah hati kita, firman ini akan bertumbuh dan mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan jiwa kita.
Dalam ayat 21 kita disarankan untuk menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut. Lemah lembut berarti bersikap tunduk, tanpa menentang. Menerima firman dengan lemah lembut berarti tidak menolaknya, bahkan tunduk kepada firman itu. Kita harus menerima firman Allah yang tertanam di dalam kita dengan penuh ketaatan. Apa pun yang Allah katakan, haruslah kita terima dengan mengatakan, “Amin”. Menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut, dengan patuh, berarti dengan mutlak kita terbuka terhadap firman Allah. Kita laksana tanah yang bersedia menerima benih dari petani dan hujan dari langit. Allah menanam atau menabur firman Nya ke dalam hati kita, dan seharusnya kita menerima firman Nya dengan lemah lembut. Inilah menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam. Karena firman ini hidup, maka setelah tertanam ke dalam hati kita, ia akan tumbuh. Kemudian, begitu firman itu bertumbuh, ia akan menyelamatkan jiwa kita.
Dalam 1:14 15 Yakobus berkata, “Tetapi tiap tiap orang dicobai oleh keinginannya (nafsunya) sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Di sini kita nampak bahwa godaan itu berkaitan dengan nafsu, dan nafsu berhubungan erat dengan jiwa. Penyelamatan jiwa meliputi perihal menanggung pencobaan dan menolak godaan godaan. Aniaya, pencobaan, dan godaan umumnya mempengaruhi jiwa kita. Sebagai contoh, seorang saudara yang kehilangan pekerjaan, jiwanya tentu akan menderita. Kebanyakan penderitaan mempengaruhi jiwa. Bagaimana kita dapat menanggung penderitaan? Kekuatan untuk menanggung penderitaan adalah melalui hayat ilahi yang ada di dalam kita.
Jika kita ingin menolak godaan, kita perlu mendapatkan perawatan melalui menerima firman yang tertanam. Kita boleh menggunakan perihal makan sebagai gambaran. Walaupun fisik kita sehat, kita masih perlu makan makanan yang bergizi setiap hari. Walaupun kita mempunyai hayat jasmani, setiap hari kita masih perlu makan. Jika di pagi hari tidak makan pagi, kita tidak mempunyai kekuatan untuk bekerja. Demikian pula prinsip hayat ilahi. Melalui kelahiran kembali Allah menyalurkan hayat Nya ke dalam kita. Tetapi hayat ini masih memerlukan makanan, dan makanan yang kita perlukan adalah firman yang tertanam. Setiap hari kita perlu membaca Alkitab untuk menerima firman Allah. Dalam hayat rohani kita memerlukan “makan pagi” yang baik setiap hari. Sewaktu kita makan makanan pagi rohani kita, kita menerima firman yang tertanam. Ketika Allah menanamkan firman Nya ke dalam kita setiap pagi, firman ini menjadi makanan bagi manusia batiniah kita, dan menguatkan roh kita. Begitu roh kita dikuatkan, ia juga akan menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan mempunyai kekuatan untuk menanggung penderitaan dan menolak godaan. Ini berarti melalui perawatan oleh firman yang tertanam kita mengalami keselamatan jiwa.
Jika jiwa kita tidak diperkuat demikian, jiwa kita tidak akan sanggup menanggung pencobaan dan godaan. Misalnya, jika seorang saudara tidak dirawat melalui firman yang tertanam, jiwanya tidak akan sanggup menanggung penderitaan karena kehilangan pekerjaan atau kehilangan sejumlah uang. Kehilangan semacam itu selalu mempengaruhi jiwanya. Iblis memakai penderitaan penderitaan itu untuk menjatuhkan kita. Lantas, bagaimana agar kita dapat bertahan di tengah penderitaan semacam itu? Jiwa kita dapat menahannya hanya oleh roh yang telah dirawat melalui firman yang tertanam. Memahami hal itu, Paulus berdoa agar kaum saleh dikuatkan dan diteguhkan ke dalam manusia batiniahnya (Ef 3:16). Jiwa kita perlu dikuatkan dalam manusia batiniah, dan manusia batiniah ini adalah roh kita. Bagaimana roh kita bisa dikuatkan dan diteguhkan? Roh kita dikuatkan dan diteguhkan melalui dirawat dengan firman Allah yang tertanam.
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa roh kita dikuatkan oleh firman Allah yang tertanam. Jika pada pagi hari kita memakai sedikit waktu untuk memakan firman Allah, roh kita akan dikuatkan dan diteguhkan. Karena roh kita dikuatkan, maka roh kita akan menopang jiwa kita. Kemudian melalui ditopang secara demikian, jiwa kita akan sanggup menanggung pencobaan pencobaan dan menolak godaan godaan.
Dari pengalaman kita tahu bahwa jika roh kita tidak dikuatkan, dan jiwa kita tidak ditopang oleh roh yang kuat, kita akan mudah dikalahkan oleh berbagai pencobaan dan godaan. Akibatnya adalah kegagalan. Ini berarti walaupun kita telah diselamatkan dalam roh kita, keselamatan setiap hari bagi jiwa kita belum ada. Jadi, setiap hari terjadi ke¬¨rugian terhadap jiwa kita; bahkan kehilangan jiwa kita. Tahukah Anda mengapa kita kehilangan jiwa kita? Kita kehilangan jiwa karena jiwa kita tidak menerima makanan dari roh kita. Jika roh kita “kempes”, kekurangan udara surgawi, maka roh kita tidak sanggup menopang jiwa kita. Karena itu, kita perlu firman yang tertanam untuk “me-mompa” roh kita. Jika roh kita dipenuhi dengan udara ilahi, roh kita akan kuat dan sanggup menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan diselamatkan.
Setiap hari jiwa kita diuji oleh penderitaan di lingkungan luar kita dan oleh hawa nafsu yang memikat di dalam kita. Karena itu, jiwa kita perlu diselamatkan. Supaya jiwa kita diselamatkan, ia perlu ditopang melalui setiap hari mendapatkan perawatan dari firman yang tertanam. Untuk ini kita perlu setiap hari menerima firman Allah sama seperti kita menerima makanan kita setiap hari. Jika seorang anak tidak mau makan, ia akan menjadi lemah dan tidak sehat. Jika seorang anak menolak makanan yang bergizi, berarti dalam hal makan ia tidak patuh dan tidak lembut. Setiap anak perlu dengan lemah lembut menerima makanan yang disajikan oleh ibunya. Jika ia makan makanan yang sehat sedemikian, ia akan menjadi kuat dan sehat. Demikian pula, kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam.
Menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam juga berarti menerima dan membiarkan hukum yang sempurna bekerja di dalam kita. Dalam 1:25 Yakobus berkata, “Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Hukum yang sempurna ini bukanlah hukum harfiah yang ditulis pada loh batu yang di luar, melainkan hukum hayat yang ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10). Standar moral dari hukum ini sesuai dengan konstitusi kerajaan yang diumumkan oleh Tuhan (Mat. 5-7).
Hukum hayat yang sempurna ini adalah fungsi dari hayat ilahi yang disalurkan ke dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali. Ia akan menyuplai kita sepanjang hidup kristiani kita dengan kekayaan yang tidak terduga dari hayat ilahi untuk membebaskan kita dari hukum dosa dan maut, dan menggenapkan semua tuntutan kebenaran hukum harfiah (Rm. 8:2, 4). Kita memerlukan hukum yang sempurna ini supaya kita bisa menempuh kehidupan yang ibadah, hidup yang takut akan Allah. Kehidupan semacam inilah yang sesuai dengan hati Allah yang adalah kasih, juga sesuai dengan sifat Allah yang kudus. Hukum ini adalah hukum Kristus (1 Kor. 9:21), bahkan adalah Kristus sendiri, yang hidup di dalam kita untuk mengatur kita melalui menyalurkan sifat ilahi ke dalam diri kita, sehingga kita bisa menempuh hidup yang mengekspresikan gambar Allah.

Courtesy Image Google

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Leave a reply