Kehidupan yang Menelan Kelemahan

Kehidupan yang Menelan Kelemahan

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel  11 – 12 dan Yohanes 5:1 – 18

Yohanes 5:5-6 “Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

 

Orang yang telah sakit selama 38 tahun ini, dijumpai Tuhan pada hari raya. Hari raya adalah hari untuk orang bergembira. Tetapi coba Anda pikir, bagi orang yang sudah lama sakit ini, apakah ia bisa bergembira pada hari raya? Keadaannya boleh dikatakan sebagai hari gembira tanpa sukacita. Mungkin orang lain boleh bergembira, tetapi dia tidak bisa bergembira. Karena dia masih sakit, lemah, sendirian, dan menderita. Pada dirinya ada penyakit yang berat, harapan kesembuhan belum ia dapatkan.

Keadaan kebanyakan orang pada hari ini juga seperti orang yang telah lama sakit ini, meskipun di luar ada hari raya, tetapi di dalam tidak ada sukacita; hari-hari mereka sebenarnya untuk bergembira, hati mereka tidak bergembira. Lingkungan mereka boleh bergembira, tetapi keadaan hati mereka tidak bisa bergembira. Ketika mereka berada dalam saat yang paling menggembirakan, begitu terpikir akan kebiasaan buruknya, begitu terpikir akan penyakitnya, segera di dalam mereka tidak bisa bergembira.

Menurut perkataan Tuhan Yesus yang selanjutnya, kita tahu bahwa Dia menyuruh orang yang sakit itu bangkit; bukan dengan cara apa pun, melainkan menyuruh dia hidup kembali; tidak menyuruh dia bergumul sendiri, melainkan dengan kekuatan Tuhan mengangkat dia bangun. Dia sudah sakit selama 38 tahun, kematian hampir mengikisnya habis. Di bawah pengikisan kematian, ia meronta, mengerang, selain Tuhan yang bisa menelan maut, ada cara dan usaha apa lagi yang bisa menyelamatkan dia? Tidak ada! Sebab itu keperluannya bukanlah cara, juga bukan usaha apa pun, melainkan satu kehidupan yang menelan maut.

Doa: “Ya Bapa, selamatkan kami. Ya Bapa selamatkan kami dari berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani. Kami sungguh memerlukan kehidupan-Mu, kekuatan-Mu untuk menyembuhkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Image Courtesy Google

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Leave a reply