Menerima yang Allah takarkan

Menerima yang Allah takarkan

Jadwal pembacaan Alkitab : 1Raja – raja  18:25 –  19 dan Yohanes 18:1 – 27

Yohanes 18:11b , “… bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”

 

“Cawan” yang disebut oleh Tuhan di sini mengacu kepada kematian-Nya di atas salib dan segala kesengsaraan-Nya. Dia berkata bahwa itu adalah yang diberikan Allah kepada-Nya, sebab itu, Dia tidak bisa tidak meminumnya, tidak bisa tidak menerimanya. Ini memberi tahu kita bahwa kematian Tuhan meskipun Ia terima dengan sukarela, itu bukanlah kesenangan-Nya, melainkan cawan yang diberikan Bapa kepada-Nya, bagian yang Allah takar untuk-Nya. Penerimaan-Nya ini adalah merampungkan maksud Allah, melakukan kehendak Allah. Sebab itu, kematian Tuhan adalah standar yang paling tinggi dari melakukan kehendak Allah. Hal ini memperlihatkan kepada kita, melakukan kehendak Allah bukanlah melakukan perbuatan baik, menurut konsep kita, melainkan menerima yang Allah takarkan bagi kita sebagai standar.

Banyak perkara yang baik, yang indah, belum tentu merupakan yang Allah takarkan bagi kita, atau yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Kalau itu kita lakukan, tidak dapat terhitung melakukan kehendak Allah. Melayani Allah bukan menyuruh kita berkorban atau menyuruh kita memilih menyangkal diri, melainkan membiarkan kehendak Allah yang terjadi. Bukan kita yang memilih salib, melainkan taat kepada kehendak Allah, inilah prinsip yang mendasar. Kalau prinsipnya adalah pemberontakan, memberi kurban persembahan bahkan akan membuat Iblis beroleh kenikmatan dan kemuliaan. Saul boleh saja mempersembahkan lembu dan domba, namun Allah tidak mengakuinya sebagai kurban persembahan kepada-Nya, karena ia berada pada prinsip Iblis. Karena itu, Alkitab memperlihatkan, dosa pendurhakaan (pembangkangan) sama dengan dosa melakukan tenung (sihir); dosa keras kepala (kedegilan) sama dengan penyembahan berhala (1 Sam. 15:23).

 

Doa: “YaBapa, terima kasih atas kasih-Mu. Jauhkanlah diri kami dari melakukan dosa pembangkangan. Berikanlah kepada kami roh yang taat. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Image Courtesy Google

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Leave a reply