Penderitaan Salib

Penderitaan Salib

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan 28-29 dan Markus 15:1-20

Markus 15:17 “Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya”

 

Inilah satu penghinaan dan olok-olok. Sungguh sulit diterima. Yang diberikan orang dunia kepada Tuhan Yesus bukan mahkota mulia, melainkan mahkota yang teranyam dari duri. Tuhan Yesus, bagi kita menanggung kutukan, kepala-Nya bermahkotakan mahkota duri. Duri itu  tumbuh karena kutukan terhadap orang yang berdosa. Mahkota itu betapa tajam, betapa lancip. Kepala yang tidak bercacat, mengapa harus tertusuk demikian? Ya, Dia mau menderita sengsara, Dia mau berdarah, karena Dia tahu, kalau Dia tidak menderita, kita akan binasa selama-lamanya.

“Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh” (Mrk. 15:19). Kepala Tuhan Yesus bermahkota duri, ditambah lagi dipukul dengan buluh, bukankah duri itu akan lebih masuk ke dalam daging-Nya. Penderitaan-Nya yang menusuk tulang ini belum pernah dialami oleh Yesus Kristus yang sebagai Allah. Dia, karena mengasihi manusia, mau menggantikan manusia mati di atas kayu salib, menyelamatkan manusia terlepas dari penderitaan kekal lautan api. Karena itu, Ia baru menerima penderitaan yang tidak bisa diucapkan. Serdadu-serdadu hanyalah alat-alat orang dunia yang berdosa, ikut berperan dalam penderitaan jasmani Kristus, diteruskan lagi membuat hati Tuhan sakit dengan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya (Mrk. 15:19). Setelah mereka mengolok-olok Tuhan Yesus, mereka membawa-Nya ke luar untuk disalibkan. Dia sepenuh hati mengasihi semua orang dosa di dunia. Dia mau menerima kematian bagi orang dosa. Dia mau menerima semua penderitaan, semua penghukuman dosa, supaya orang dosa mendapatkan hidup yang kekal. Dia sendiri menggantikan orang dosa, merasakan segala kepahitan hukuman dosa, supaya orang dosa bisa mendapatkan sukacita kebenaran-Nya.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, terima kasih atas firman-Mu.  Tuhan Yesus, Engkau mau menerima penderitaan dosa sehingga kami terlepas dari hukuman kekal. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Courtesy Image Google

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Leave a reply