Posted in Articles
Penyerahan Mutlak

Penyerahan Mutlak

“Seperti bicaramu itulah, ya tuanku raja. Aku ini dengan segala yang ada padaku adalah milikmu!”
Benhadad, raja Aram, mengumpulkan seluruh tentaranya, tiga puluh dua orang raja bersama-sama die beserta kuda dan kereta. Lalu ia maju, ia mengepung Samaria dan memeranginya. Kemudian ia mengirim utusan ke kota itu, kepada Ahab, raja Israel, dengan pesan: “Beginilah pesan Benhadad: Emasmu dan perakmu adalah milikku, dan juga isteri-isteri dan anak-anakmu yang cantik-cantik adalah milikku.” Raja Israel menjawab, katanya: “Seperti bicaramu itulah, ya tuanku raja. Aku ini dengan segala yang ada padaku adalah milikmu!” (1 Raj. 20:1-4)

Hal yang diminta Benhadad adalah penyerahan mutlak, dan hal yang Ahab berikan adalah hal yang ia minta—penyerahan mutlak. Saya ingin menggunakan perkataan ini, “Seperti bicaramu itulah, ya tuanku raja. Aku ini dengan segala yang ada padaku adalah milikmu!” sebagai kata-kata penyerahan mutlak yang seharusnya diucapkan setiap anak Allah kepada Bapanya. Kita telah mendengarnya sebelumnya, tetapi kita perlu mendengarnya sejelas mungkin—syarat untuk menerima berkat Allah adalah menyerahkan segala sesuatu secara mutlak ke dalam tangan-Nya. Puji Tuhan! Bila hati kita bersedia melakukannya, tidak ada batasan untuk hal yang akan Allah lakukan bagi kita, dan untuk berkat yang akan Dia berikan kepada kita.


Penyerahan mutlak—biarlah saya ceritakan kepada Anda dari mana saya mendapatkan istilah itu. Saya sering menggunakannya untuk diri sendiri, dan Anda sudah mendengarnya berulang kali. Namun, di Skotlandia, saya pernah berada di satu perusahaan tempat kami membicarakan kondisi Gereja Kristus serta apa kebutuhan besar Gereja dan orang percaya itu. Di perusahaan kami, ada seorang karyawan saleh yang banyak menangani pelatihan karyawan, dan saya menanyakan pendapatnya tentang kebutuhan besar Gereja serta pesan yang seharusnya dikhotbahkan. la menjawab dengan sangat tenang, sederhana, dan tegas, “Penyerahan mutlak kepada Allah .”

Kata-kata itu menyentakkan saya seperti belum pernah sebelumnya. Orang itu mulai menceritakan bagaimana, dalam diri para karyawan yang harus ditanganinya, ia mendapati bahwa bila mau berserah, walaupun mempunyai kekurangan, mereka akan mau diajar dan ditolong sehingga mereka selalu menjadi semakin baik; sedangkan orang lain yang tidak mau berserah malah sering mengalami kemunduran, dan akhirnya meninggalkan pekerjaan. Syarat untuk mendapatkan berkat Allah sepenuhnya adalah penyerahan mutlak kepada-Nya.

Sekarang, oleh kasih karunia Allah, saya ingin menyampaikan pesan ini kepada Anda—bahwa Allah Anda di surga menjawab doa yang Anda naikkan untuk meminta berkat bagi Anda dan orang-orang di sekitar Anda, dengan satu syarat ini: Apakah Anda mau menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam tangan-Nya? Apa jawaban kita? Allah tahu ada ratusan hati yang menjawab ya, dan ada ratusan lagi yang ingin menjawab ya, tetapi tidak berani melakukannya. Ada hati yang sudah menjawab ya, tetapi gagal secara menyedihkan, dan ada yang merasa bersalah karena tidak menemukan rahasia kuasa untuk menjalani hidup dalam penyerahan mutlak. Semoga Allah berbicara kepada kita semua!

Sumber: Andrew Murray, Absolute Surrender (Yogyakarta: Penerbit ANDI Offset), pp. 23-24

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

1 Comment

  1. admin
    May 13, 2014 | 08:25 PM|

    sangat memberikan pencerahan

Leave a reply