Kuasa pemberitaan firman

Kuasa pemberitaan firman

Jadwal pembacaan Alkitab : 1 Tawarikh  1:1 –2:17  dan Kisah para rasul  6

Kisah para rasul 6:7 , “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”

 

Kisah Para Rasul 6:7 mengatakan, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Kata “tersebar” dalam bahasa aslinya mengacu kepada pertumbuhan dalam hayat. Ini membuktikan bahwa firman Allah adalah perkara hayat yang bertumbuh bagaikan benih yang ditaburkan ke dalam hati manusia (Mrk. 4:14).

Kaum saleh muda, kalian dapat mengambil satu bagian dari firman dan memberitakannya kepada orang lain. Hanya, janganlah bersandar kepada petah lidah yang mungkin kalian miliki. Orang-orang yang fasih dalam berbicara mungkin tidak dapat memiliki kuat kuasa atau daya dobrak yang kuat. Tetapi orang-orang yang kurang fasih, bahkan tidak fasih berbicara, dapat memiliki daya dobrak yang kuat dan kuat kuasa dalam pemberitaan Injil mereka. Jika kita bersandar dalam doa, firman, dan Roh Kudus, Tuhan bahkan dapat memakai pembicaraan dengan pengucapan yang tidak fasih itu untuk menyelamatkan orang lain.

Seperti yang kalian ketahui, D.L. Moody hebat dalam memberitakan Injil. Ia adalah seorang pekerja muda di toko sepatu pamannya ketika ia berbeban untuk memberitakan Injil. Satu hari, setelah menyampaikan suatu berita Injil, Moody didekati oleh seseorang yang terpelajar di jemaat itu. Orang ini memberi tahu Moody bahwa ia sering memakai tata bahasa yang salah dalam pembicaraannya. Moody menjawab seperti ini, “Tata bahasa Anda itu tepat. Pergilah memberitakan Injil dan lihatlah apa hasilnya. Saya mungkin memakai tata bahasa yang buruk, tetapi melalui pemberitaan Injil saya, banyak orang yang diselamatkan.”

 

Doa: “Ya Bapa kami,terima kasih atas firman-Mu. Bawalah diri kami menjadi orang yang memiliki beban untuk memberitakan Injil. Terima kasih Dikau mau memakai kami, orang yang mungkin tidak fasih dalam berbicara untuk memberitakan Injil. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Firman Kehidupan

Firman Kehidupan

Jadwal pembacaan Alkitab : 1 Raja – raja 5 – 6 dan Yohanes 11:17-57

Yohanes 11:25  “Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

Hari itu Tuhan membangkitkan Lazarus dari kematian melalui berbicara kepadanya, berseru kepadanya. Ini menyatakan kuasa kebangkitan Tuhan masuk ke dalam manusia, membuat manusia mendapatkan kebangkitan adalah melalui firman-Nya. Firman-Nya adalah suara-Nya. Kuasa kebangkitan-Nya tersembunyi di dalam firman-Nya, tersimpan dalam suara-Nya. Dalam firman-Nya dan suara-Nya ada kuasa kebangkitan-Nya. Firman-Nya ini, suara-Nya ini, adalah Injil, juga firman dalam Alkitab, yaitu perkataan yang Ia ucapkan sendiri. Begitu firman-Nya ini menyentuh kematian di dalam manusia, segera ada satu kekuatan hayat, kekuatan kebangkitan, yang dapat menelan kematian orang, dan menghidupkan kembali orang. Begitu Tuhan melawat Anda, saat itu juga firman Tuhan menimpa diri Anda. Kuasa kebangkitan Tuhan berada di dalam firman-Nya. Ketika firman-Nya menimpa diri Anda, maka kuasa kebangkitan akan menghidupkan Anda.

Jangankan orang yang bukan Kristen, kita yang sebagai orang Kristen pun sering kali batin kita dihidupkan oleh firman Tuhan. Asalnya batin kita mati, karena disentuh oleh firman Tuhan, lalu hidup. Mungkin pada pagi hari berdoa, lalu firman Tuhan datang; atau ketika membaca Alkitab, ada firman Tuhan datang; atau membaca buku rohani, ada firman Tuhan datang; atau ketika mendengarkan khotbah, ada firman Tuhan datang. Sebelum firman Tuhan datang, di dalam kita tertekan, dalam keadaan mati. Begitu firman Tuhan datang, batin kita segera hidup. Firman Tuhan bisa menghidupkan kita. Asalnya batin kita mati, begitu dinyalakan oleh firman Tuhan, menjadi hidup. Firman Tuhan adalah Roh Tuhan, adalah kuasa Tuhan, begitu menyentuh kita, kita pun hidup.

Doa: “Ya Bapa, terima kasih atas firman-Mu. Firman-Mu boleh menghidupkan kami dari keadaan rohani yang mati, dari berbagai tekanan hidup. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Pendengar – Pelaku Firman

Pendengar – Pelaku Firman

Jadwal pembacaan Alkitab : Yosua 20 – 21 dan Lukas 11:14-32

Lukas 11:28 (Tl.) “Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

 

Pada hari itu ada orang berkata kepada Tuhan Yesus bahwa berbahagialah ibu yang telah mengandung-Nya dan susu yang telah menyusui-Nya. Tuhan menjawab bahwa yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya, yaitu orang yang melakukan kehendak Allah. Maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang melakukan kehendak Allah akan mendapatkan kebahagiaan yang amat besar! Bahkan lebih besar dari berkat yang diterima oleh Maria yang melahirkan Tuhan Yesus!

Mungkin ada orang berpikir, kalau bisa menjadi saudara sekandung Tuhan betapa bahagianya! Tetapi Tuhan memberi tahu kita, “Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, adalah saudara-Ku!” Lihatlah, melakukan kehendak Allah dapat menerima pahala yang amat berkat! Sebaliknya, kalau hari ini kita mengetahui maksud Tuhan tetapi tidak mau melakukannya, ketika Tuhan datang, kita pasti menerima pukulan, bahkan menerima banyak pukulan!

Kalau kita karena mengasihi Tuhan lalu memegang perintah Tuhan, yaitu melakukan kehendak Allah, maka menurut yang Tuhan janjikan di sini, kita akan dikasihi oleh Bapa dan Tuhan, dan akan mendapatkan penyataan diri Bapa dan penyertaan Tuhan. Adakah perkara lain yang lebih manis dan indah daripada kasih Bapa dan Tuhan? Apa yang lebih berharga daripada penyataan diri dan penyertaan Bapa dan Tuhan? Bagian berkat yang tidak ada taranya ini telah dijanjikan oleh Tuhan kepada orang yang melakukan kehendak Allah. Sebab itu, kalau kita mau dengan riil menikmati kasih Bapa dan Tuhan, kita mau mengalami sendiri penyataan dan penyertaan Bapa dan Tuhan, kita harus mengasihi Tuhan dan melakukan kehendak Allah

Doa:” Ya Bapa, kami berterima kasih atas firman-Mu. Pimpinlah kami bukan hanya menjadi pendengar firman, terlebih menjadi pelaku-pelaku firman, bersama Tuhan melakukan apa yang telah difirmankan-Nya.Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Kuasa Firman yang Menyembuhkan

Kuasa Firman yang Menyembuhkan

Jadwal pembacaan Alkitab : Ulangan 32:48 – 34:12 dan Lukas 7:1-23

Lukas 7:6b-7  “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”

 

Bagaimana perwira Romawi ini, seorang bukan Yahudi, dapat mengenal kuasa Tuhan? Menurut ayat 5, ia mengasihi bangsa Yahudi dan membangun sebuah rumah ibadat bagi orang-orang Yahudi. Dari hal ini kita nampak bahwa ia mungkin memiliki sedikit pengetahuan akan Perjanjian Lama. Selain itu, ia menyebut Tuhan Yesus sebagai Tuhan. Jadi, ia sadar bahwa Dialah yang memiliki kuasa yang sejati.

Perwira ini juga mengenal makna perkataan yang berkuasa. Inilah sebabnya ia dapat berkata kepada Tuhan Yesus, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 7). Ia mengenal kuasa dan firman sebagai ekspresi kuasa itu. Hamba perwira itu disembuhkan oleh firman Tuhan.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Dengan Lemah Lembut Menerima Firman yang Tertanam

Dengan Lemah Lembut Menerima Firman yang Tertanam

Yakobus 1:21-25 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. (22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (23)  Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. (24) Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (25) Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Firman Allah bagaikan suatu tanaman hidup, yang ditanamkan ke dalam diri kita dan bertumbuh di dalam kita untuk menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa kita (Yak. 1:21). Kita perlu menerima firman ini dengan lemah lembut, dalam segala kepatuhan, tanpa menentang. Keselamatan jiwa di sini merupakan hasil dari menahan pencobaan yang timbul dari lingkungan (ayat 2 12) dan menolak godaan nafsu (ayat 13 21). Di aspek yang lebih positif, keselamatan jiwa merupakan hasil dari pengubahan yang dikerjakan oleh Roh itu, yang menyerupakan kita dengan gambar Tuhan, dari kemuliaan ke kemuliaan (Rm. 12:2; Ef 4:23; 2 Kor. 3:18).
Kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam, yang sanggup menyelamatkan jiwa kita. Ungkapan ini menyatakan bahwa firman ini mengandung hayat. Di sini Yakobus menyamakan firman Allah dengan suatu tanaman hidup yang ditanamkan ke dalam diri kita. Dengan demikian, firman menjadi firman yang tertanam. Setelah firman Allah tertanam ke dalam tanah hati kita, firman ini akan bertumbuh dan mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan jiwa kita.
Dalam ayat 21 kita disarankan untuk menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut. Lemah lembut berarti bersikap tunduk, tanpa menentang. Menerima firman dengan lemah lembut berarti tidak menolaknya, bahkan tunduk kepada firman itu. Kita harus menerima firman Allah yang tertanam di dalam kita dengan penuh ketaatan. Apa pun yang Allah katakan, haruslah kita terima dengan mengatakan, “Amin”. Menerima firman yang tertanam itu dengan lemah lembut, dengan patuh, berarti dengan mutlak kita terbuka terhadap firman Allah. Kita laksana tanah yang bersedia menerima benih dari petani dan hujan dari langit. Allah menanam atau menabur firman Nya ke dalam hati kita, dan seharusnya kita menerima firman Nya dengan lemah lembut. Inilah menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam. Karena firman ini hidup, maka setelah tertanam ke dalam hati kita, ia akan tumbuh. Kemudian, begitu firman itu bertumbuh, ia akan menyelamatkan jiwa kita.
Dalam 1:14 15 Yakobus berkata, “Tetapi tiap tiap orang dicobai oleh keinginannya (nafsunya) sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Di sini kita nampak bahwa godaan itu berkaitan dengan nafsu, dan nafsu berhubungan erat dengan jiwa. Penyelamatan jiwa meliputi perihal menanggung pencobaan dan menolak godaan godaan. Aniaya, pencobaan, dan godaan umumnya mempengaruhi jiwa kita. Sebagai contoh, seorang saudara yang kehilangan pekerjaan, jiwanya tentu akan menderita. Kebanyakan penderitaan mempengaruhi jiwa. Bagaimana kita dapat menanggung penderitaan? Kekuatan untuk menanggung penderitaan adalah melalui hayat ilahi yang ada di dalam kita.
Jika kita ingin menolak godaan, kita perlu mendapatkan perawatan melalui menerima firman yang tertanam. Kita boleh menggunakan perihal makan sebagai gambaran. Walaupun fisik kita sehat, kita masih perlu makan makanan yang bergizi setiap hari. Walaupun kita mempunyai hayat jasmani, setiap hari kita masih perlu makan. Jika di pagi hari tidak makan pagi, kita tidak mempunyai kekuatan untuk bekerja. Demikian pula prinsip hayat ilahi. Melalui kelahiran kembali Allah menyalurkan hayat Nya ke dalam kita. Tetapi hayat ini masih memerlukan makanan, dan makanan yang kita perlukan adalah firman yang tertanam. Setiap hari kita perlu membaca Alkitab untuk menerima firman Allah. Dalam hayat rohani kita memerlukan “makan pagi” yang baik setiap hari. Sewaktu kita makan makanan pagi rohani kita, kita menerima firman yang tertanam. Ketika Allah menanamkan firman Nya ke dalam kita setiap pagi, firman ini menjadi makanan bagi manusia batiniah kita, dan menguatkan roh kita. Begitu roh kita dikuatkan, ia juga akan menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan mempunyai kekuatan untuk menanggung penderitaan dan menolak godaan. Ini berarti melalui perawatan oleh firman yang tertanam kita mengalami keselamatan jiwa.
Jika jiwa kita tidak diperkuat demikian, jiwa kita tidak akan sanggup menanggung pencobaan dan godaan. Misalnya, jika seorang saudara tidak dirawat melalui firman yang tertanam, jiwanya tidak akan sanggup menanggung penderitaan karena kehilangan pekerjaan atau kehilangan sejumlah uang. Kehilangan semacam itu selalu mempengaruhi jiwanya. Iblis memakai penderitaan penderitaan itu untuk menjatuhkan kita. Lantas, bagaimana agar kita dapat bertahan di tengah penderitaan semacam itu? Jiwa kita dapat menahannya hanya oleh roh yang telah dirawat melalui firman yang tertanam. Memahami hal itu, Paulus berdoa agar kaum saleh dikuatkan dan diteguhkan ke dalam manusia batiniahnya (Ef 3:16). Jiwa kita perlu dikuatkan dalam manusia batiniah, dan manusia batiniah ini adalah roh kita. Bagaimana roh kita bisa dikuatkan dan diteguhkan? Roh kita dikuatkan dan diteguhkan melalui dirawat dengan firman Allah yang tertanam.
Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa roh kita dikuatkan oleh firman Allah yang tertanam. Jika pada pagi hari kita memakai sedikit waktu untuk memakan firman Allah, roh kita akan dikuatkan dan diteguhkan. Karena roh kita dikuatkan, maka roh kita akan menopang jiwa kita. Kemudian melalui ditopang secara demikian, jiwa kita akan sanggup menanggung pencobaan pencobaan dan menolak godaan godaan.
Dari pengalaman kita tahu bahwa jika roh kita tidak dikuatkan, dan jiwa kita tidak ditopang oleh roh yang kuat, kita akan mudah dikalahkan oleh berbagai pencobaan dan godaan. Akibatnya adalah kegagalan. Ini berarti walaupun kita telah diselamatkan dalam roh kita, keselamatan setiap hari bagi jiwa kita belum ada. Jadi, setiap hari terjadi ke¬rugian terhadap jiwa kita; bahkan kehilangan jiwa kita. Tahukah Anda mengapa kita kehilangan jiwa kita? Kita kehilangan jiwa karena jiwa kita tidak menerima makanan dari roh kita. Jika roh kita “kempes”, kekurangan udara surgawi, maka roh kita tidak sanggup menopang jiwa kita. Karena itu, kita perlu firman yang tertanam untuk “me-mompa” roh kita. Jika roh kita dipenuhi dengan udara ilahi, roh kita akan kuat dan sanggup menopang jiwa kita. Hasilnya, jiwa kita akan diselamatkan.
Setiap hari jiwa kita diuji oleh penderitaan di lingkungan luar kita dan oleh hawa nafsu yang memikat di dalam kita. Karena itu, jiwa kita perlu diselamatkan. Supaya jiwa kita diselamatkan, ia perlu ditopang melalui setiap hari mendapatkan perawatan dari firman yang tertanam. Untuk ini kita perlu setiap hari menerima firman Allah sama seperti kita menerima makanan kita setiap hari. Jika seorang anak tidak mau makan, ia akan menjadi lemah dan tidak sehat. Jika seorang anak menolak makanan yang bergizi, berarti dalam hal makan ia tidak patuh dan tidak lembut. Setiap anak perlu dengan lemah lembut menerima makanan yang disajikan oleh ibunya. Jika ia makan makanan yang sehat sedemikian, ia akan menjadi kuat dan sehat. Demikian pula, kita perlu menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam.
Menerima dengan lemah lembut firman yang tertanam juga berarti menerima dan membiarkan hukum yang sempurna bekerja di dalam kita. Dalam 1:25 Yakobus berkata, “Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Hukum yang sempurna ini bukanlah hukum harfiah yang ditulis pada loh batu yang di luar, melainkan hukum hayat yang ditulis dalam hati kita (Ibr. 8:10). Standar moral dari hukum ini sesuai dengan konstitusi kerajaan yang diumumkan oleh Tuhan (Mat. 5-7).
Hukum hayat yang sempurna ini adalah fungsi dari hayat ilahi yang disalurkan ke dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali. Ia akan menyuplai kita sepanjang hidup kristiani kita dengan kekayaan yang tidak terduga dari hayat ilahi untuk membebaskan kita dari hukum dosa dan maut, dan menggenapkan semua tuntutan kebenaran hukum harfiah (Rm. 8:2, 4). Kita memerlukan hukum yang sempurna ini supaya kita bisa menempuh kehidupan yang ibadah, hidup yang takut akan Allah. Kehidupan semacam inilah yang sesuai dengan hati Allah yang adalah kasih, juga sesuai dengan sifat Allah yang kudus. Hukum ini adalah hukum Kristus (1 Kor. 9:21), bahkan adalah Kristus sendiri, yang hidup di dalam kita untuk mengatur kita melalui menyalurkan sifat ilahi ke dalam diri kita, sehingga kita bisa menempuh hidup yang mengekspresikan gambar Allah.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Articles
Berbahagia di Tengah Pencobaan dan Ujian

Berbahagia di Tengah Pencobaan dan Ujian

Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.

1 Yohanes 5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.

Filipi 1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.

Surat Yakobus diawali dengan perkataan, “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan: Bersukacitalah! (Tl.). Yakobus adalah sauda­ra kandung Tuhan Yesus (Mat. 13:55) dan Yudas (Yud. 1). Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul yang dipilih oleh Tuhan ketika Tuhan berada di bumi, tetapi ia menjadi se­orang rasul setelah kebangkitan Tuhan (Gal. 1:19) dan men­jadi penatua terkemuka dalam gereja di Yerusalem (Kis. 12:17; 15:2, 13; 21:18). Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus dianggap sebagai sokoguru gereja. Paulus menyebutnya yang pertama di antara ketiga sokoguru itu (Gal. 2:9).

Dalam 1:2 Yakobus mengatakan, “Saudara‑saudaraku, anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke da­lam berbagai‑bagai pencobaan.” Di sini kita nampak bahwa kebajikan pertama yang berkaitan dengan praktek kristiani yang sempurna yang dibahas oleh Yakobus adalah menang­gung pencobaan‑pencobaan dengan iman. Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat, Iblis (1 Yoh. 5:19). Iblis menentang Allah terus‑menerus, dan da­lam setiap kesempatan. Iblis tidak senang bila orang‑orang berpaling kepada Allah dan ia tidak akan membiarkan hal ini. Begitu seseorang berpaling kepada Allah, Iblis akan menghasut orang‑orang di sekelilingnya untuk menganiaya orang itu. Paulus pernah mengatakan bahwa kita, orang-­orang Kristen, ditetapkan untuk menderita penganiayaan (Flp. 1:29). Karena itu, penganiayaan merupakan bagian yang ditentukan bagi kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus. Jadi, aspek pertama dari praktek kristiani yang sempurna adalah menanggung pencobaan‑pencobaan, se­buah istilah yang mencakup penganiayaan.

Penganiayaan adalah suatu penderitaan. Akan tetapi, pencobaan‑pencobaan bukan hanya suatu penderitaan, kare­na pencobaan‑pencobaan adalah suatu penderitaan yang me­ngandung maksud untuk mencobai atau menguji kita. Seba­gai gambaran, kita bisa memakai ujian akhir di sekolah. Murid‑murid tahu bahwa ujian akhir bisa menjadi suatu penderitaan dan pencobaan yang riil. Akan tetapi, sebenar­nya pencobaan semacam itu merupakan suatu pertolongan bagi para murid. Jika di sekolah tidak ada ujian akhir, para murid mungkin akan melalaikan pelajaran mereka. Namun, ketika mereka tahu bahwa ujian akhir telah di ambang pintu, mereka akan berkonsentrasi kepada pelajaran mere­ka dengan rajin. Karena itu, ujian akhir membantu para murid mempelajari hal‑hal yang penting. Karena alasan ini­lah para orang tua murid akan sangat berterima kasih de­ngan adanya ujian akhir, karena mengetahui hal itu mem­bantu anak‑anak mereka untuk memperoleh manfaat dari pendidikan mereka.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
AKU AKAN MEMBERI KELEGAAN

AKU AKAN MEMBERI KELEGAAN

Firman Tuhan dalam Matius 11:28 berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu semua yang bekerja dan menanggung beban berat, datanglah kepada-Ku dan mengaso. Kamu semua orang beragama dan kamu semua orang duniawi yang bekerja dan berbeban berat, datanglah kepada-Ku dan Aku akan memberikan kelegaan.” Perkataan yang alangkah penuh karunia! Bekerja yang disebutkan dalam ayat 28 tidak saja ditujukan kepada pekerjaan untuk berjuang memelihara perintah-perintah hukum Taurat dan peraturan-peraturan agama, tetapi juga ditujukan kepada segala macam upaya untuk mencapai sukses dalam pekerjaan apa pun. Mengaso berarti tidak saja dibebaskan dari pekerjaan dan beban di bawah hukum Taurat dan agama, atau di bawah pekerjaan serta tanggung jawab apa pun, tetapi juga berarti beroleh damai yang sempurna dan kepuasan penuh.

Apakah Anda merasa banyak perkara membuat Anda khawatir? Atau banyak tanggungan yang tidak mampu Anda pikul? Mungkin pula Anda menderita susah karena kegagalan? Tuhan mengundang Anda. Anda boleh datang kepada-Nya untuk menerima kelegaan. Sayang, banyak orang Kristen hidup tanpa kelegaan. Mereka terlalu sering merasa tidak puas, selalu bersungut-sungut. Salah satu sebabnya ialah mereka belum berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi Tuhan menunjukkan kepada kita, syarat memperoleh kelegaan adalah lemah lembut. Ketika jalan dan tujuan kita berselisih dengan jalan dan tujuan Allah, baiklah kita berbalik untuk menerima jalan-Nya. Tanpa hati yang lembut, orang tidak akan memperoleh kelegaan. Lemah lembut adalah syarat pertama untuk memperoleh kelegaan.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, terima kasih atas firman-Mu. Mohon Tuhan berkati kami yang mengalami kesulitan dan beban berat beroleh kelegaan di dalam Kristus. Kami mau datang kepada-Mu. Terima kasih Tuhan Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Posted in Devotions

Kuasa Pemberitaan Firman

Jadwal pembacaan Alkitab : 1 Tawarikh 1:1-2:17  dan Kisah Para Rasul 6

Kisah Para Rasul 6:7 “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”

Kisah Para Rasul 6:7 mengatakan, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Kata “tersebar” dalam bahasa aslinya mengacu kepada pertumbuhan dalam hayat. Ini membuktikan bahwa firman Allah adalah perkara hayat yang bertumbuh bagaikan benih yang ditaburkan ke dalam hati manusia (Mrk. 4:14).

Kaum saleh muda, kalian dapat mengambil satu bagian dari firman dan memberitakannya kepada orang lain. Hanya, janganlah bersandar kepada petah lidah yang mungkin kalian miliki. Orang-orang yang fasih dalam berbicara mungkin tidak dapat memiliki kuat kuasa atau daya dobrak yang kuat. Tetapi orang-orang yang kurang fasih, bahkan tidak fasih berbicara, dapat memiliki daya dobrak yang kuat dan kuat kuasa dalam pemberitaan Injil mereka. Jika kita bersandar dalam doa, firman, dan Roh Kudus, Tuhan bahkan dapat memakai pembicaraan dengan pengucapan yang tidak fasih itu untuk menyelamatkan orang lain.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone