Berdoalah Tanpa Jemu

Berdoalah Tanpa Jemu

Jadwal pembacaan Alkitab : Hakim-hakim 19–20:18 dan Lukas  18:1-17

Lukas 18:7  “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”

Berdoa wajib dilakukan secara terus-menerus, jangan berhenti. Dalam Injil Lukas 18:1 dikatakan, ”Harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu.” Adakalanya doa harus dilakukan terus-menerus, sampai seolah-olah membuat Tuhan repot dan tidak dapat tidak mengabulkan doa kita. Ini juga merupakan satu iman lagi. Kata Tuhan, ”Jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Iman di sini walaupun tidak sama dengan yang disebut di depan, tetapi tidak bertentangan. Kalau Markus mengatakan harus berdoa sampai beroleh iman, maka di sini harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu, yaitu percaya bahwa doa kita di hadapan Allah yang tak henti-hentinya ini pada suatu hari tak dapat tidak Allah kabulkan. Beroleh janji atau tidak, tidak kuhiraukan, pokoknya aku ingin berdoa sampai Allah tidak dapat tidak mengabulkannya.

Coba Anda hitung, berapakah dari doa Anda yang Anda ulangi sampai dua kali, tiga kali, lima kali, atau sepuluh kali? Tidakkah banyak doa yang Anda sendiri lupa, kalau demikian mungkinkah Allah mau mengabulkan? Kalau Anda berdoa tanpa minat, mungkinkah Allah berminat mengabulkan doa Anda? Anda sendiri telah melupakan doa Anda itu, bagaimanakah Allah mau mengingatnya? Sebenarnya Anda sama sekali tidak berminat. Anda harus berkemauan dengan tulus murni, baru bisa mendoakannya terus. Berdoa terus-menerus itu hanya dapat kita lakukan jika kita berada dalam kondisi terdesak, atau dalam keadaan yang sangat memerlukan, dan dalam perasaan yang amat tergerak. Setelah lewat sepuluh tahun pun mungkin tak terlupakan: ”Ya Tuhan, bila Engkau tidak melakukannya, aku akan mendoakannya terus.”

Doa: “Ya Bapa,terima kasih atas firman-Mu. Berkati kamiagar tekun berdoa bagi gereja dan pekerjaan Tuhan dengan tidak jemu-jemu.Terima kasih Tuhan Yesus.  Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Kuasa Firman yang Menyembuhkan

Kuasa Firman yang Menyembuhkan

Jadwal pembacaan Alkitab : Ulangan 32:48 – 34:12 dan Lukas 7:1-23

Lukas 7:6b-7  “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”

 

Bagaimana perwira Romawi ini, seorang bukan Yahudi, dapat mengenal kuasa Tuhan? Menurut ayat 5, ia mengasihi bangsa Yahudi dan membangun sebuah rumah ibadat bagi orang-orang Yahudi. Dari hal ini kita nampak bahwa ia mungkin memiliki sedikit pengetahuan akan Perjanjian Lama. Selain itu, ia menyebut Tuhan Yesus sebagai Tuhan. Jadi, ia sadar bahwa Dialah yang memiliki kuasa yang sejati.

Perwira ini juga mengenal makna perkataan yang berkuasa. Inilah sebabnya ia dapat berkata kepada Tuhan Yesus, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 7). Ia mengenal kuasa dan firman sebagai ekspresi kuasa itu. Hamba perwira itu disembuhkan oleh firman Tuhan.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Asal Tidak Bimbang dan Percaya

Asal Tidak Bimbang dan Percaya

Jadwal pembacaan Alkitab : Bilangan pasal 13 – 14 dan Markus pasal 11

Markus 11:23 “Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”  

Dalam kitab Injil kita dapat melihat bahwa ada yang unik bagaimana Tuhan melakukan, seperti menyembuhkan orang yang sakit pendarahan “Dia berkata: Asal kujamah saja jubahnya, aku akan sembuh” (Mrk. 5:28).  Saat itu Tuhan tidak terlihat mau menyembuhkan perempuan itu. Tapi dengan iman perempuan itu menjamah jubah Tuhan pasti sembuh. Dia menjamah jubah Tuhan dan saat itu juga berhentilah pendarahannya. Di sini kita bisa melihat karena imannyalah ia mendapatkan kesembuhan. Seorang perwira hanya meminta pada Allah memberikan sepatah kata dan dia beriman hambanya akan sembuh (Luk.7:7). Dan seketika itu Dia tidak pernah menemukan iman sebesar itu diantara orang Israel. Dua kisah ini memperlihatkan iman mereka yang besar, tidak bimbang hati dan percaya mereka pasti mendapatkan apa yang mereka minta pada Tuhan.

Keadaan yang sering terjadi, saat kita meminta sesuatu pada Tuhan, kita masih tidak sepenuhnya percaya mendapatkannya bahkan selesai berdoa masih bimbang hatinya. Pertanyaan hari ini bagaimana sikap doa kita? Apakah sewaktu doa kita menjamah Tuhan seperti perempuan itu menjamah jubah Tuhan? Apakah kita meminta sepatah kata dari Tuhan seperti perwira itu? Dan perkataan Tuhan menjadi iman kita? Kita perlu berpaling kembali pada Tuhan. Doa kita bukan hanya meminta tapi doa yang bisa menjamah hati Tuhan dan ada perkataan-Nya yaitu firman-Nya tinggal dalam hati kita menjadi iman kita (Rm. 10:17). Doa dengan iman, tidak bimbang hati dan percaya saja bahwa kita telah mendapatkan yang kita minta dan doakan (Mrk. 11:24). Jika kita mempraktekan sikap doa yang demikian, kita akan melihat bagaimana Tuhan menjawab doa kita.

Doa: “Ya Allah Bapa kami, ajarlah kami untuk berdoa dengan iman terhadap firman-Mu. Jagalah kami agar kami tidak bimbang, tetapi percaya sepenuhnya kepadamu. Terima kasih Tuhan Yesus.  Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone