Batu bagi bangunan Allah

Batu bagi bangunan Allah

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Raja – raja  15:13 –  17: 41 dan kisah para rasul l 4:1 – 12

Kisah para rasul 4:11 , “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri –, namun ia telah menjadi batu penjuru.”

 

Tuhan Yesus juga mengutip ayat ini dalam Matius 21:42, di mana Dia menunjukkan bahwa Dia adalah batu bagi pembangunan Allah (Yes. 28:16; Za. 3:9; 1 Ptr. 2:4), dan “tukang-tukang bangunan” adalah para pemimpin Yahudi yang seharusnya bekerja bagi pembangunan Allah. Perkataan Petrus menyingkapkan penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi terhadap Yesus dan penghormatan Allah terhadap-Nya bagi pembangunan tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Oleh perkataan ini Petrus belajar mengenal Tuhan sebagai batu berharga yang dihormati Allah, seperti ketika Petrus menjelaskan tentang Tuhan dalam suratnya yang pertama (1 Ptr. 2:4-7).

Petrus mengutip perkataan ini, menunjukkan bahwa dia memberitakan Kristus bukan hanya sebagai Juruselamat bagi keselamatan orang dosa, tetapi juga sebagai batu bagi pembangunan Allah. Kristus yang sedemikian ini adalah satu-satunya keselamatan bagi orang dosa, dan di dalam nama-Nya yang unik di bawah kolong langit ini, yaitu nama yang diremehkan dan ditolak pemimpin-pemimpin Yahudi tetapi dihormati dan ditinggikan Allah (Flp. 2:9-10), orang dosa pasti diselamatkan (Kis. 4:12), bukan hanya terlepas dari dosa (Mat. 1:21), tetapi juga diselamatkan untuk berbagian dalam pembangunan Allah (1 Ptr. 2:5).

Batu penjuru itu menghubungkan sudut dinding sebuah rumah. Petrus tidak saja memberitakan Kristus sebagai Juruselamat, lebih-lebih memberitakan Kristus sebagai batu bangunan, batu penjuru yang menghubungkan semua dinding. Sebab itu, dalam 1 Petrus ia menulis, “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr. 2:4-5a).

 

Doa: “Ya Bapa,selamatkan kami. Buatlah diri kami dapat dipergunakan sebagai batu-batu hidup bagi pembangunan rumah rohani.Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Darah dan air

Darah dan air

Jadwal pembacaan Alkitab : 1Raja – raja  22 dan Yohanes  19:17-42

Yohanes 19:34 , “tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.”

 

Yohanes 19:34 memberi tahu kita bahwa dari lambung Tuhan yang ditusuk telah mengalir keluar dua macam cairan: darah dan air. Darah adalah untuk membasuh dosadosa kita untuk penebusan dan air adalah untuk menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita sebagai pembagian hidup. Kita perlu memuji Tuhan untuk darah dan air ini. Semua hal negatif telah dibereskan dan Allah telah didispensikan ke dalam kita sebagai hayat kekal. Darah dilambangkan dengan darah Anak Domba Paskah (Kel. 12:7,22; Why. 12:11), dan air dilambangkan dengan air yang mengalir keluar dari gunung batu yang terbelah (Kel. 17:6; 1 Kor. 10:4). Darah itu menjadi suatu sumber untuk membasuh dosa (Za. 13:1), dan air itu menjadi sumber hidup (Mzm. 36:10; Why. 21:6). Berdasarkan darah pembasuhan, sekarang kita dapat menikmati hidup kekal sebagai air hidup. Terima kasih pada Tuhan untuk kematian-Nya yang almuhit dan menakjubkan.

Dalam Perjanjian Lama, dari batu karang yang terpukul, air hidup mengalir untuk meleraikan dahaga umat Israel (Kel. 17:6). Tuhan adalah batu karang yang dipukul di atas salib. Dia hancur sedemikian rupa sehingga kuasa ilahi-Nya dapat mengalir keluar dari-Nya sebagai air hidup. Tidak hanya air yang keluar dari-Nya, melainkan juga darah, lambang penebusan. Sebelum kita dapat menerima Tuhan sebagai air kehidupan yang hidup, pertama-tama kita harus dibersihkan. Jadi darah disebut sebagai hal yang pertama dan air sebagai yang kedua. Setelah kita dibersihkan demi darah, lalu kita dapat menerima Tuhan sebagai Sang hidup. Kalau darah membentuk sebuah pancaran untuk mencuci, air menjadi sebuah pancaran untuk diminum. Darah itu untuk membeli gereja, sedangkan air melambangkan hidup kekal, untuk menghasilkan gereja.

 

Doa: “Ya Bapa, terima kasih atas firman-Mu.  Terima kasih atas darah yang menebus kami, juga air hidup yang mengalir di dalam kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Dahulu dimahkotai duri

Dahulu dimahkotai duri

Jadwal pembacaan Alkitab : 1Raja – raja  20 – 21 dan Yohanes  18:28 – 19:16

Yohanes 19:2  “Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu.”

 

Menurut hukum Allah yang adil, orang dosa harus mati, harus dikutuk. Sebab itu Tuhan Yesus di bawah hukum Taurat mati untuk kita, merasakan kematian bagi kita, menerima kutukan bagi kita, mengorbankan jiwa menjadi harga penebusan kita, untuk menebus kita, terlepas dari kutukan hukum Taurat. Ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, mahkota duri yang dikenakan kepada-Nya adalah tanda menerima kutukan. Adanya duri disebabkan oleh kutukan terhadap orang dosa (Kej. 3:17, 18). Kutukan terhadap dosa-dosa yang dilakukan manusia, semuanya tertimpa kepada Tuhan ketika Ia disalib. Di sana Tuhan menerima kutukan bagi kita, orang yang berdosa, sebab itu kematian-Nya dapat menebus kita terlepas dari kutuk hukum Taurat. Tuhan di sini, sebagai Anak Domba Paskah berkurban bagi dosa-dosa kita, diseret seperti domba kepada penyembelih-Nya untuk menggenapkan Yesaya 53:7-8.

Kalau di bumi Ia diberi mahkota duri, tetapi di atas takhta di surga, Ia dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan. Sebagai persona yang dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan, Kristus jauh lebih mustika daripada hal apa pun di bumi. Alihkanlah pandangan kita dari hal-hal di bumi, dan pandanglah Yesus yang telah dibangkitkan dan naik ke surga, yang telah dinobatkan serta dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan. Karena kita telah dibangkitkan bersama Kristus, kita harus mencari hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah (Kol. 3:1). Lupakanlah apa yang dikejar orang di bumi, pandanglah Tuhan Yesus. Janganlah mengapresiasi apa yang ada di dunia ini, tetapi apresiasilah Persona yang dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan ini. Kiranya perhatian kita hanya berpusat pada Tuhan Yesus saja; tidak terpikat oleh hal lain apa pun.

 

Doa: “Ya Bapa, terima kasih atas kebangkitan Tuhan Yesus.  Pikatlah hati kami, hingga tertuju kepada-Mu. Buatlah diri kami bisa memikirkan perkara yang di atas. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Penyertaan Allah

Penyertaan Allah

Jadwal pembacaan Alkitab : 1Raja – raja 12 – 13:19  dan Yohanes 14

Yohanes 14:21 “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”

Banyak anak-anak Allah yang terkenal, namun tidak banyak orang yang mengenal Allah. Banyak orang pandai membaca Alkitab, tetapi mereka tidak mengenal Allah; mereka memang mengerti Alkitab, tetapi tidak mengenal kuasa Allah. Banyak juga orang yang pandai berkhotbah, namun mereka sebenarnya tidak mengetahui apa yang dikhotbahkannya itu. Mengapa demikian? Sebab Tuhan tidak menyatakan diri kepadanya. Banyak orang tidak mendapatkan penyataan Tuhan, disebabkan mereka tidak mengasihi Tuhan, tidak melakukan perintahNya. Di dunia ini hanya ada sejenis orang yang mengasihi Tuhan, yakni orang yang setia kepada-Nya.

Ada satu kisah dalam Alkitab, tentang perempuan bangsawan Sunem yang berkata kepada suaminya: “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus” (2 Raj. 4:9b). Apa yang diperlihatkan Elisa kepada perempuan itu? Elisa tidak melakukan perbuatan ajaib di depan perempuan itu, namun setiap kali ia datang, ia selalu memberinya satu perasaan akan penyertaan Allah. Saudara saudari, apakah kita senang akan penyataan Allah? Jika ya, haruslah kita dengan berbagai macam cara mencari perintah Allah, dan kemudian melakukan perintahNya.

Allah dan Kristus menyertai orang-orang yang percaya, namun Allah dan Kristus “diam” (tinggal) bersama-sama dengan orang yang mengasihi Dia (Yoh. 14:23). Jadi, tidak hanya menyatakan diri-Nya, menyertai, bahkan tinggal bersamanya. Penyertaan, kadang-kadang tidak terasa. Meskipun demikian, ketika Anda mencari perintah Allah dengan setia dan tidak mempedulikan yang lain, Anda akan menemukan bahwa Allah tinggal bersama Anda.

Doa: “Ya Bapa, terima kasih atas firman-Mu. Rahmatilah diri kami, Bapa untuk selalu setia mencari dan menaati perintah-Mu. Kami mengasihi-Mu Bapa. Kami sungguh mendambakan penyertaan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Damai Bersama Yesus

Damai Bersama Yesus

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel 14:21 – 16:14 dan Yohanes  6:1 – 21

Yohanes 6:20-21 “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.”

 

Alkitab tidak berkata dunia ini sangat terang, tetapi firman Allah berkata, hari sudah mulai malam. Sekarang kita berada dalam malam yang gelap ini. Sebab itu kita merasakan sekeliling kita semuanya gelap. Apakah Anda merasakan sekeliling semuanya gelap? Kalau Anda tidak mengetahui apa yang disebut gelap, kalau Anda tidak merasakan sekeliling semuanya gelap, mungkin Anda sudah dilebur oleh dunia. Kalau kita berjalan di dalam terang, sering dekat dengan Allah, hidup dalam Kristus, terus-menerus menghakimi pekerjaan daging, dan menurut pimpinan Roh Kudus, dengan sendirinya kita akan memahami bahwa dunia ini benar-benar adalah satu dunia yang gelap.

Murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu. Perjalanan kita baru dimulai dan belum mencapai tujuan. Apa saja yang mereka alami? “Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang” (Yoh. 6:17-18). Laut yang bergelora melambangkan gangguan kesulitan hidup manusia.

Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Ini melambangkan bahwa Tuhan bisa menaklukkan segala kesulitan kehidupan manusia. Dia bisa berjalan di atas ombak kesulitan kehidupan manusia, dan semua kesulitan ada di bawah kaki-Nya. Tuhan berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Yesus ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui. Kita harus menerima Tuhan ke dalam “perahu” kita (kehidupan pernikahan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, dan lain-lainnya), agar dalam penempuhan hidup manusia ini kita menikmati kedamaian bersama Dia.

Doa: “Ya Bapa, kami mau membiarkan diri-Mu masuk dalam perahu kehidupan kami, sehingga kami boleh melewati ombak kesulitan bersama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Dari Maut ke dalam Hidup

Dari Maut ke dalam Hidup

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel 13 – 14:20 dan Yohanes 5:19-47

Yohanes 5:24 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup”

 

Kalau kita ingin mendapatkan penyelamatan-Nya, ingin pindah dari dalam maut ke dalam hidup, ingin hidup kembali, kita harus mendengarkan perkataan-Nya. Perkataan-Nya adalah Injil kehidupan, juga suara-Nya, yang berasal dari Tuhan Sang Kehidupan, sebab itu di dalamnya terdapat kehidupan-Nya. Perkataan yang mengandung hayat-Nya, Injil yang mengandung kehidupan-Nya, suara yang mendatangkan kehidupan ini, begitu kita dengar, akan membuat kehidupan-Nya masuk ke dalam kita, membuat kita mendapatkan penyelamatan, dapat pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

Hari itu, orang yang sakit 38 tahun itu mendengar perkataan Tuhan Yesus, mendengar suara Tuhan Yesus; ia mendapatkan penyelamatan. Ketika Tuhan Yesus bertanya kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Ia mulai mendengarkan perkataan Tuhan, mendengar suara Tuhan. Kemudian Tuhan berkata lagi, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah!” Perkataan Injil Tuhan ini adalah suara kehidupan, telah menyentuh batinnya, membuat dia, orang yang mati dalam kelemahan, mendapatkan kekuatan kehidupan, lalu bangun, mengangkat tikarnya dan berjalan. Ia mendengarkan perkataan Tuhan, ia pindah dari dalam maut ke dalam hidup, ia hidup kembali. Begitu mendengarkan suara Tuhan, ia pun hidup. Sebab itu, mendengarkan perkataan Tuhan bisa membuat orang hidup kembali, bisa membuat orang mendapatkan Tuhan, mendapatkan penyelamatan yang hidup. Sang Hidup ini adalah Tuhan sendiri, yang ilahi, yang kekal, yang mempunyai kekuatan bangkit dari kematian, yang mempunyai kekuatan yang tak terbatas, begitu masuk ke dalam kita, membuat kita bangkit dari kematian, yang lemah menjadi kuat, yang gundah menjadi sukacita.

Doa: “Ya Bapa, kami mengucap syukur bahwa Diri-Mu tersedia sebagai Sang Hidup itu, hingga kami boleh dilepaskan dari maut dan masuk ke dalam hidup. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Kehidupan yang Menelan Kelemahan

Kehidupan yang Menelan Kelemahan

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel  11 – 12 dan Yohanes 5:1 – 18

Yohanes 5:5-6 “Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

 

Orang yang telah sakit selama 38 tahun ini, dijumpai Tuhan pada hari raya. Hari raya adalah hari untuk orang bergembira. Tetapi coba Anda pikir, bagi orang yang sudah lama sakit ini, apakah ia bisa bergembira pada hari raya? Keadaannya boleh dikatakan sebagai hari gembira tanpa sukacita. Mungkin orang lain boleh bergembira, tetapi dia tidak bisa bergembira. Karena dia masih sakit, lemah, sendirian, dan menderita. Pada dirinya ada penyakit yang berat, harapan kesembuhan belum ia dapatkan.

Keadaan kebanyakan orang pada hari ini juga seperti orang yang telah lama sakit ini, meskipun di luar ada hari raya, tetapi di dalam tidak ada sukacita; hari-hari mereka sebenarnya untuk bergembira, hati mereka tidak bergembira. Lingkungan mereka boleh bergembira, tetapi keadaan hati mereka tidak bisa bergembira. Ketika mereka berada dalam saat yang paling menggembirakan, begitu terpikir akan kebiasaan buruknya, begitu terpikir akan penyakitnya, segera di dalam mereka tidak bisa bergembira.

Menurut perkataan Tuhan Yesus yang selanjutnya, kita tahu bahwa Dia menyuruh orang yang sakit itu bangkit; bukan dengan cara apa pun, melainkan menyuruh dia hidup kembali; tidak menyuruh dia bergumul sendiri, melainkan dengan kekuatan Tuhan mengangkat dia bangun. Dia sudah sakit selama 38 tahun, kematian hampir mengikisnya habis. Di bawah pengikisan kematian, ia meronta, mengerang, selain Tuhan yang bisa menelan maut, ada cara dan usaha apa lagi yang bisa menyelamatkan dia? Tidak ada! Sebab itu keperluannya bukanlah cara, juga bukan usaha apa pun, melainkan satu kehidupan yang menelan maut.

Doa: “Ya Bapa, selamatkan kami. Ya Bapa selamatkan kami dari berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani. Kami sungguh memerlukan kehidupan-Mu, kekuatan-Mu untuk menyembuhkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Air Hidup

Air Hidup

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel 5 – 7 dan Lukas 4:1 – 26

Yohanes 4 : 14b  “…Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

 

Harta benda, kesenangan dunia bukan hanya tidak bisa meleraikan haus, bahkan menambah rasa haus. Semakin orang mendapatkan harta benda, semakin menikmati kemewahan dunia, ia semakin haus, semakin bernafsu mencarinya. Karena itu Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi.” Seseorang setelah mendapat keuntungan Rp 10.000,- ingin mendapatkan keuntungan Rp 100.000,-. Setelah itu ingin Rp 1.000.000,- dan seterusnya, tidak ada puasnya. Sudah punya satu istri, ingin mencari istri atau selir lagi. Yang sudah ada kedudukan ingin mencapai kedudukan yang lebih tinggi lagi, begitulah seterusnya tidak pernah puas, terus merasa haus, sampai kematian tiba. Segala benda dan kesenangan dunia ini hanya menambah rasa haus manusia saja, tidak dapat melenyapkan rasa haus itu. Malahan semua harta benda dan hiburan dunia kalau salah pemakaiannya, salah mengusahakannya, akan menjadi racun yang mencelakakan manusia. Bukan hanya kehidupan di dunia yang fana ini berantakan, tetapi juga akhirnya jiwanya akan musnah, menderita sengsara di neraka selama-lamanya.

Air yang diberikan oleh Kristus adalah kehidupan-Nya, yakni kehidupan Allah. Allah menaruh kehidupan-Nya ke dalam Kristus sebagai air hidup yang diberikan kepada manusia. Allah mengutus Kristus datang dengan maksud agar manusia mendapatkan air hidup ini. Kristus terbelah di atas salib tidak lain mempunyai tujuan membebaskan air hidup ini. Begitu masuk ke dalam diri manusia, air hidup ini segera membuat manusia puas, tidak haus lagi, karena di dalam manusia sekarang ada mata air kehidupan yang memancar terus-menerus sampai kepada hidup yang kekal.

Doa:” Ya Allah Bapa kami. Jaga kami agar tidak tergoda oleh tipuan Iblis yang menggiurkan namun menyesatkan; sebaliknya terus menikmati Kristus sebagai kepuasan sejati kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Hati Allah

Hati Allah

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel  3 – 4 dan Yohanes 3

Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

 

Hari ini hidup manusia sangatlah lelah dan tiada pengharapan. Penderitaan, kemiskinan, lemah, sakit, kematian, terus datang silih berganti. Hari ini orang hidup di dunia seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Namun Yohanes 3:16 memberi tahu kita bahwa di surga ada satu hati yang mengasihi manusia. Tetapi belum pernah ada orang melihat Allah yang mengasihi manusia ini, juga belum ada orang yang mengetahui hati yang mengasihi manusia ini. Sampai suatu waktu, Allah melalui Anak Tunggal-Nya, menyatakan diri dan hati-Nya di atas bumi.

Yohanes 3:16 memberitahu kita empat hal: (1) Allah mengasihi manusia, (2) sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, (3) supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, (4) tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Perkara pertama dan kedua sudah dikerjakan oleh Allah. Sekarang Allah menyuruh kita melakukan perkara yang ketiga. Setelah kita melakukan perkara yang ketiga, perkara keempat akan tergenapkan di atas diri kita. Allah sudah mengasihi kita, Allah sudah memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada kita. Sekarang Allah menghendaki kita percaya. Kalau kita percaya, kita beroleh hidup yang kekal. Di pihak Allah, Dia telah melakukan semua. Sekarang Allah menghendaki kita melakukan kewajiban di pihak kita. Setelah kita melakukan kewajiban di pihak kita, tujuan Allah mengasihi kita akan tercapai, yakni memberi kita hidup yang kekal. Hidup yang kekal bukan berkat yang akan didapat pada kemudian hari, melainkan satu kehidupan yang sekarang didapatkan oleh karena percaya Tuhan Yesus.

Doa: “Ya Bapa, saat ini kami mendoakan teman-teman Injil kami, agar hati mereka dilembutkan dan terbuka terhadap Tuhan sehingga mau menerima Tuhan sebagai Juruselamat dan hayat mereka. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin! “

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone
Kehabisan Anggur

Kehabisan Anggur

Jadwal pembacaan Alkitab : 2 Samuel 1 – 2 dan Yohanes 2

Yohanes 2:3 “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”

 

Anggur dalam pesta pernikahan terpakai habis, ini melambangkan kehidupan manusia ada batasnya, bisa habis. Bukan hanya sepasang orang tua bisa mati, sepasang orang muda juga bisa mati. Kalau salah seorang dari antara suami istri meninggal, sukacita pasangan itu telah habis. Artinya, anggur dalam pesta kehidupan manusia sudah terpakai habis. Begitu manusia habis, kehidupan manusia juga tidak ada lagi, sukacita kehidupan manusia juga habis. Sepasang suami istri yang baru menikah, mereka menempuh kehidupan manusia yang paling menggembirakan. Setelah lewat lima puluh tahun, anggurnya juga sudah hampir habis terpakai, diminum beberapa saat lagi akan habis. Tidak saja sukacita suami istri dalam kehidupan manusia demikian, banyak aspek sukacita lainnya dalam kehidupan manusia juga demikian. Sukacita dari berbagai aspek kehidupan manusia, karena keterbatasan manusia, akan habis, dan akhirnya akan sirna.

Tuhan datang ke pesta pernikahan ini, meskipun saat itu orang-orang tidak mengetahui untuk apa Dia datang. Jauh hari sebelumnya Dia sudah tahu bahwa mereka akan kehabisan anggur, mereka memerlukan Dia mengubah air menjadi anggur yang lebih baik. Semua ini melambangkan bahwa kedatangan Tuhan ke tengah-tengah umat manusia, meskipun manusia tidak mengetahui untuk apa Dia datang, tetapi Dia tahu bahwa manusia mempunyai keperluan akan Tuhan. Manusia boleh setiap hari berpesta pora, setiap hari menempuh kehidupan yang senang, tetapi Tuhan tahu bahwa kehidupan manusia pada suatu hari akan sampai kepada kesudahannya, pada suatu hari akan habis. Itulah sebabnya Dia datang untuk mengatasi keperluan manusia akan hayat.

 

Doa: “Ya Bapa, kami mohon Agar kami bijaksana dan menebus waktu kami untuk mengasihi Tuhan dan melayani Tuhan, sebab inilah sukacita yang sejati.Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin!”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone