Posted in Articles
Ujian yang Menghasilkan Ketekunan dan Kemuliaan

Ujian yang Menghasilkan Ketekunan dan Kemuliaan

Yakobus 1:3-5, 12 Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (4) Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. (5) Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya. (12) Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Yakobus menasihati kita untuk menganggap sebagai kebahagiaan, apabila kita jatuh ke dalam berbagai-­bagai pencobaan (Yak. 1:2). Dalam ayat 3 ia meneruskan, “Sebab ka­mu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Iman di sini adalah iman kristiani yang diberi­kan oleh Allah di dalam Kristus (2:1; 2 Ptr. 1:1). Pencobaan dan pembuktian terhadap iman kita, menghasilkan ketekunan. Ketekunan kita meningkat akibat berbagai ujian berupa tentangan dan pen­cobaan. Penganiayaan yang kita alami menghasilkan ketekunan.

Ketekunan berbeda dengan kesabaran. Kita bisa sabar tanpa memiliki ketekunan. Kesabaran kita itu rapuh. Yang kita perlukan adalah suatu kesabaran yang tahan lama. Kesabaran yang tahan lama ini adalah ketekunan. Sewaktu Anda diperlakukan tidak adil oleh seseorang, pertama‑tama Anda melatih kesabaran Anda. Tetapi Anda akan menemukan bahwa kesabaran saja masih belum cu­kup, karena dalam penderitaan karena pencobaan, Anda juga memerlukan ketekunan. Ketekunan berasal dari pengujian, pencobaan, pembuktian terhadap iman kita.

Dalam ayat 4 Yakobus melanjutkan, “Biarkanlah kete­kunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tidak kekurangan apa pun.” Surat Kiriman Yakobus sangat istimewa dan baik sekali dalam menyajikan tingkah laku orang Kristen, menekankan prak­tek kristiani yang sempurna agar kaum beriman bisa sem­purna dan utuh, tidak kekurangan apa pun. Kesempurnaan perilaku kristiani semacam ini memerlukan pengujian dari penanggulangan pemerintahan Allah (ayat 2, 12) dan kesabaran kaum beriman oleh kebajikan kelahiran ilahi berda­sarkan kelahiran kembali oleh firman yang tertanam (ayat 18, 21). Yakobus mengakhiri ayat 4 dengan kata‑kata, “tidak keku­rangan apa pun.” Keinginannya tidak lain agar mereka yang menerima suratnya akan menjadi lengkap dan utuh dalam praktek kristiani yang sempurna, tidak kekurangan apa pun.

Dalam ayat 5 Yakobus mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, ‑ yang memberikan kepada se­mua orang dengan murah hati dan tidak membangkit­-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Mela­lui hikmat‑Nya, Allah di dalam Kristus, membuat rencana kekal‑Nya dan merampungkannya (1 Kor. 2:7; Ef 3:9‑11; Ams. 8:12, 22‑31). Dan dalam ekonomi Perjanjian Baru‑Nya, Allah membuat Kristus pertama‑tama sebagai hikmat kita (1 Kor. 1:24, 30). Hikmat Allah diperlukan untuk praktek kristiani yang sempurna. Karena itu, kita perlu meminta hikmat kepada Allah. Yakobus terkenal sebagai orang yang berdoa. Di sini ia menyuruh para penerima Surat Kirimannya untuk berdoa meminta hikmat. Ini menyiratkan bahwa hikmatnya ada­lah pemberian Allah kepadanya melalui doa. Dalam Surat Kirimannya, ia menekankan doa (5:14‑18). Doa adalah kebajikan dari praktek kristiani yang sempurna.

Dalam ayat 5 Yakobus memberi tahu kita bahwa jika kita kekurangan hikmat, kita harus memintanya dari Allah. Untuk memiliki perilaku yang sempurna, keperluan yang mendasar adalah hikmat. Orang yang bodoh tidak mungkin sempurna. Jika kita penuh hikmat, maka di dalam setiap kegiatan hidup kita sehari‑hari, kita akan berkelakuan dengan sempurna. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan ter­capai terutama melalui hikmat. Orang yang berhikmat da­pat menjadi sempurna. Akan tetapi, jika kita tidak memiliki hikmat, kita bisa menyinggung orang lain dengan perkata­an kita yang bodoh. Pembicaraan kita bisa menyatakan bahwa hikmat kita tidak memadai. Ketika kita kekurangan bikmat, kita perlu memintanya dari Allah. Jika kita meminta hikmat kepada Allah, Ia akan memberikannya dengan murah hati dan tidak dengan membangkit‑bangkit. Memberi dengan mu­rah hati berarti memberi dengan hati yang tulus, penuh kemurahan, tanpa sisa (Rm. 12:8; 2 Kor. 8:2).

Yakobus sangat mengenal Allah; khususnya ia menge­nal Allah itu murah hati. Sewaktu Allah memberi, Ia memberikannya tanpa membangkit‑bangkit. Orang yang kikir tidak mau memberi, seandainya ia memberi, ia akan memberi dengan disertai celaan, dengan kata‑kata yang pedas. Tetapi Allah, yang memberi kepada semua orang dengan murah hati, tidak seperti orang yang semacam itu. Allah memberikan dengan murah hati, dan Ia memberikannya tanpa membangkit‑bang­kit.

Dalam ayat 6 Yakobus meneruskan perkataannya, “Hen­daklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang‑ambingkan kian ke mari oleh angin.” Dalam bahasa Yunani, terjemahan “bimbang” juga berarti “goyah”, “ragu‑ragu”. Seorang yang berdoa dengan ragu‑ragu adalah seperti gelombang laut, yang diombang­-ambingkan kian ke mari oleh angin. Ayat 7‑8 mengatakan, “Orang yang demikian jangan­lah mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati (mendua jiwa) tidak akan tenang dalam hidupnya.” Allah menjadikan manusia seba­gai makhluk yang hanya memiliki satu jiwa, dengan satu pikiran dan satu tekad. Ketika seorang beriman bimbang dalam doanya, dia membuat dirinya mendua jiwa, seperti sebuah perahu dengan dua kemudi, tidak tentu arahnya. Iman di dalam doa juga merupakan suatu kebajikan dari praktek kristiani yang sempurna.

Dalam ayat 9‑10 Yakobus meneruskan, “Baiklah sau­dara seiman yang berada dalam keadaan yang rendah ber­megah apabila ia ditinggikan, dan orang kaya bermegah apabila ia direndahkan sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.” Ketika seorang saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah dan bersuka­cita pada saat ia ditinggikan, secara spontan ia bisa memuji Tuhan (5:13). Entah pada saat diting­gikan atau pada saat direndahkan, bersukacita dan memuji merupakan kebajikan dari praktek kristiani yang sempurna. Kita semua harus menyadari, bagaimanapun kayanya kita, lingkungan kita bisa berubah. Seseorang mungkin kaya saat ini, tetapi tidak lama kemudian mungkin menjadi mis­kin. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin mempunyai posisi yang tinggi dalam pekerjaannya, dan tiba‑tiba, di luar dugaan jabatannya diturunkan atau bahkan dipecat dari pekerjaannya. Karena hal‑hal semacam ini sering terjadi, maka janganlah mengandalkan keadaan sekeliling, kekaya­an, posisi, atau pendidikan kita.

Dalam ayat 11 Yakobus menerangkan, “Karena mata­hari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rum­put itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah‑tengah segala usahanya ia akan lenyap.” Benar‑be­nar suatu perkataan yang serius, bagi mereka yang menge­jar kekayaan! Tetapi merupakan suatu perkataan yang menghibur bagi orang kaya yang direndahkan melalui kehi­langan harta mereka.

Dalam ayat 12 Yakobus mengatakan, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia su­dah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan (hayat) yang dijanjikan Allah kepada orang‑orang yang me­ngasihi Dia.” Ayat 2‑12 menyinggung tentang pencobaan. Pencobaan datang dari lingkungan kaum beriman untuk menguji iman mereka (ayat 2‑3) melalui penderitaan (ayat 9‑11). Kaum beriman harus menahan pencobaan dengan se­gala sukacita (ayat 2) karena kasih mereka terhadap Tuhan, supaya mereka bisa menerima berkat mahkota hayat. Da­lam ayat 12 istilah “tahan uji” ditujukan kepada ketahanan iman kaum beriman (ayat. 3).

Mahkota hayat mengacu kepada kemuliaan hayat, eks­presi hayat. Kaum beriman menahan pencobaan bersandarkan hayat Allah, ini akan menjadi kemuliaan mereka, ekspresi mereka, yaitu mahkota hayat, sebagai pahala bagi mereka pada saat Tuhan menyatakan diri, untuk kenikmatan me­reka dalam kerajaan yang akan datang (2:5). Dalam ayat 12 Yakobus mengatakan bahwa mahkota hayat dijanjikan kepada mereka yang mengasihi Tuhan. Percaya kepada Tuhan adalah menerima hayat Allah, supaya kita beroleh selamat; mengasihi Tuhan adalah bertumbuh dewasa dalam hayat Allah, supaya kita bersyarat menda­patkan mahkota hayat sebagai pahala, menikmati kemulia­an hayat Allah di dalam kerajaan.

Courtesy image Google

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on StumbleUponShare on TumblrEmail this to someone

Leave a reply